Halaman

Jumat, 09 Maret 2018

Berbagi Kisah Pervaginam dan Sectio Caesaria


“Seorang ibu yang melahirkan dengan proses Sectio Caesaria adalah seorang ibu yang kurang memaksimalkan usahanya untuk menjadi ibu”

Anggapan itu muncul sebelum saya merasakan sendiri bagaimana proses melahirkan melalui Sectio Caesaria (Operasi Secar) karena bagi saya proses melahirkan yang terbaik untuk tiap-tiap bayi adalah secara pervaginam (normal), pernah baca di salah satu artikel bahwa pada waktunya bayi akan memberikan signal kepada sang ibu saat akan dilahirkan kemudian ibu akan merasakan kontraksi-kontraksi.

Apa itu proses persalinan Pervaginam dan Sectio Caesaria?
  1. Persalinan Pervaginam merupakan peristiwa yang normal atau fisiologis.  Melalui jalan lahir atau vagina. dalam persalinan per vaginam ini juga kecil kemungkinan adanya komplikasi pada bayi, ibu hanya kehilangan sedikit darah, komplikasi pascapersalinan berupa infeksi saluran kencing lebih sedikit, ekonomis, dan nyeri pascapersalinan lebih singkat, sehingga ibu dapat pulang lebih cepat.
  2. Persalinan Sectio Caesaria adalah proses persalinan yang dilakukan dengan cara mengiris perut hingga rahim seorang ibu untuk mengeluarkan bayi. Operasi ini dilakukan ketika proses persalinan normal melalui 'jalan lahir' tidak memungkinkan karena komplikasi medis.

Setiap orang pasti mengambil pilihan yang terbaik dari beberapa pilihan yang ada untuk dirinya dan orang yang disayangi. Sama seperti yang saya rasakan dimana disetiap tahapan kehidupan berusaha mengambil pilihan yang terbaik. Penentuan pilihan dimulai saat akan menikah, dari berusaha memilih seorang laki-laki yang dari dirinya kita akan mendapatkan kehidupan yang baik dan keluarga yang bahagia, bukan hanya untuk saya tapi juga untuk orang tua. Proses pernikahan telah dilalui tahap selanjutnya memilih dan menentukan bagaimana menjadi istri yang terbaik dengan melihat bagaimana gambaran dari suami mengenai istri idaman versi dirinya, memilih kapan hamil dan pada saatnya memilih bagaimana memberikan stimulus yang terbaik saat kehamilan, memberikan nutrisi yang terbaik, dan bagaimana proses kelahiran yang terbaik dan saat pemikiran saat itu persalinan pervaginam masih yang terbaik. Setelah melalui proses hamil dan melahirkan kita akan diberikan hak memilih bagaimana untuk menjadi ibu yang baik dengan bagaimana mendidik anak dengan baik, bagaimana memberikan nutrisi.


Proses persalinan anak pertama dengan proses persalinan Pervaginam, dimulai dengan munculnya kontraksi, mulai merasakan kontraksi hebat jam 23.30 WIB padahal setelah dicek bidan bukaan 1 saja belum, iya baru ½ tapi sakitnya sudah luar biasa. Sakitpun semakin menjadi, rasanya hampir tidak tahan, dan disarankan untuk jalan bolak-balik di ruangan agar membantu proses pembukaan, dengan sakit yang luar biasa kaki berusaha melangkah dan tangan berpegangan pada dinding untuk menjaga tubuh bisa berdiri dan entah kenapa tiba-tiba mual tak tertahankan, muntahpun tidak bisa dihindari. Jam 03.00 WIB ibu bidan kembali mengecek dan ternyata baru 3, saya kira bukaan 1 dan 2 ibu hamil masih bisa berjalan-jalan dan aktifitas? ternyata tidak untuk saya. Intensitas sakit semakin sering berjalan sudah tidak mampu, hanya bisa posisi tidur dan beristighfar agar diberi kemudahan, assisten bidan membantu menenangkan dengan sabar mengelus-elus kepala saya, sempat terbersit pikiran dan meminta kepada assisten bidan “mba, saya dibius saja katanya baru bukaan 3 tapi rasanya sudah seperti tadi bagaimana nanti bukaan 4, 5, 6, 7, 8 dan seterusnya, saya tidak kuat sepertinya mba”, assisten tadi hanya tersenyum mungkin sering mendapati pengalaman seperti ini, kemudian kontraksi terasa semakin kuat sakitpun terasa semakin hebat dan kembali muntah "Ya Allah beginilah pengorbanan setiap Ibu?setiap Ibu luar biasa pekikku dalam hati” dan hanya istighfar hingga pagi, jam 05.30 WIB ibu bidan mengecek dan ternyata sudah bukaan 8 dan belum pecah ketuban, pantas saja sakit sekali rasanya ternyata dalam waktu 3 jam terjadi 5 bukaan.

Bidan dan timnya menyiapkan tempat persalinan. Saat dituangkan tidak ada rasa takut yang ada hanya ingin segera melihat My Little Angel. Sampai tempat persalinan bidan mengarahkan untuk tidur dengan posisi miring agar mempercepat pembukaan, dan syukur pembukaan sempurna, teringat instruksi dari bidan bahwa jangan mengejan dahulu sebelum instruksi dan saat terasa kepala bayi sudah akan keluar usahakan mengejan sekali. Terlihat bidan sudah mengambil gunting untuk membantu proses persalinan, sepertinya akan dibuatkan sobekan agar rapi, tapi belum sampai bidan menggunting, kepala bayi seakan ingin keluar dan dengan satu ejanan keluarlah gadis mungil yang cantik, sakit? tidak terasa sama sekali karena kembali lagi hanya merasa takjub “akhirnya bisa memberikan hal terbaik pertama untuk anakku”. Namun perjuangan belum berakhir, ejanan secara spontan ternyata membuat hasil sobekan yang tidak rapi yang membutuhkan jahitan yang panjang, hingga 2 jam waktu yang dibutuhkan bidan untuk menjahit agar sobekan terlihat rapi. Recovery cepat hanya butuh 1 Minggu sudah bisa keluar naik motor πŸ˜‚πŸ˜‚ dan biaya ekonomis pula.πŸ˜„πŸ˜„


Dipercaya mendapatkan rezeki lagi dua tahun kemudian, persamaan kehamilan yang pertama dan kedua adalah pencetus mual, hanya saja rasanya dikehamilan ke-2 lebih mudah lelah, awalnya berfikir mungkin karena faktor usia yang menjadi penyebabnya, semakin lama yang terlihat kehamilan ini perut lebih besar dari kehamilan pertama dan ternyata dari hasil USG terlihat bahwa volume air ketuban melebihi normal namun masih aman, hanya saja untuk duduk terasa tidak leluasa, dan saat duduk dengan posisi sila perut bagian bawah menyentuh lantai tapi so far saya masih bisa merasakan nyaman. Semakin tua usia kandungan janin masih saja banyak bergerak dan kepala belum turun ke panggul, disetiap kehamilan baik hamil yang pertama maupun di kehamilan yang kedua ini pasti periksa di dua tempat, di dokter dan bidan karena selalu berharap proses persalinan bisa secara pervaginam di rumah bersalin dengan bantuan bidan. Usia kehamilan semakin bertambah dan kepala bayi kadang sudah di bawah (posisi melahirkan) namun kadang naik lagi, faktor ruang gerak yang masih luas sebagai penyebabnya. Secara mandiri di rumah saya mengusahakan melakukan yoga hamil disela-sela waktu, mengepel dan lain sebagainya namun kondisi janin masih tetap sama. Diminggu-minggu kelahiran kepala bayi mulai ke bawah lagi namun belum mapan kata bidan, kontraksi belum terasa tapi pikiran masih tenang dan berharap mendekati HPL akan terasa kontraksi,. Hingga tanggal HPL saya belum juga merasakan kontraksi dan janin dalam perut masih banyak gerak (haduuhhh si adek betah banget di perut), malam hari memutuskan untuk kontrol ke Spog terdekat dan hasilnya “ditunggu hingga 7hari kedepan, jika belum terasa kontraksi maka dibantu dengan jalan induksi”. Keinginan melahirkan secara pervaginam masih ada, esok harinya mencoba konsultasi ke bidan dengan harapan bisa diberikan solusi agar bisa muncul kontraksi, ada beberapa hal yang disarankan bidan untuk membantu kontraksi :
  1. Jalan kaki ½ jam tanpa putus
  2. Mengkonsumsi sate kambing tanpa nasi
  3. Mengkonsumsi buah nanas
  4. Dan melakukan hubungan suami istri

Semua cara sudah dilakukan hingga melakukan hubungan suami istri, dan itu salah satu hal yang tersulit mengingat kehamilan sudah besar. Demi keluarnya hormon oksitosin yang akan merangsang terjadinya kontraksi semua hal dicoba, dan dalam rentang 7 hari semua usaha belum juga membuahkan hasil. Karena masih berharap bisa melahirkan dengan pervaginam saya dan suami mencari second opinion ke SpoG tpat saya rutin kontrol kehamilan, saat mulai dilakukan USG menurut dokter bisa ditunggu 5 hari lagi, tapi saat alat USG digeser dibagian perut yang lain ternyata sebagian air ketuban sudah keruh sehingga dokter menyarankan untuk induksi malam itu juga karena kasihan janinnya, saat itu secara hati sebenarnya sudah siap karena  yakin apapun jalan yang diberikan pasti atas kehendak Allah dan hal yang paling berat adalah meninggalkan Kakak Aiko selama 2 hari (alay ya), karena semenjak resign , 24 jam waktu yang saya miliki selalu dihabiskan dengan kakak Aiko. Namun mau tidak mau saya tetap masuk RS dan kakak Aiko dititipkan pada orang yang paling saya percaya yaitu 'eyang utinya’. Persiapan untuk induksi dimulai, sebelumnya bidan mengecek detak jantung janinnya dan menurut bidan detak jantungnya 'irreguler’ (detaknya tidak beraturan kadang cepat dan kadang lambat) penyebabnya karena bayi mengalami stress, untuk membantu menyetabilkan detak jantung janin, saya diberikan oksigen selama beberapa jam. Setelah kondisi stabil bidan mulai melakukan induksi dengan arahan dari Spog, namun baru dilaksanakan induksi selama 1 jam dan sayapun belum merasakan sakit apapun (informasi dari yang pernah melakukan induksi katanya proses ini rasanya sakit) bidan menghentikan proses induksi.

Babak baru dimulai setelah pelepasan induksi, karena dokter menyarankan persalinan secara Sectio Caesaria, perasaan campur aduk antara percaya dan tidak percaya apalagi statemen dari bidan bahwa salah satu faktornya karena air ketuban menipis (padahal air ketuban saya dari awal kehamilan berlebih, ada perasaan ragu atau mungkin tepatnya suudzon). Untuk menghinglangkan pemikiran negatif tadi sebelum Secar saya dan suami minta bertemu terlebih dahulu dengan Spog yang menangani kami dan akhirnya mendapatkan penjelasan bahwa detak jantung janin yang irreguler menandakan bayi sedang stress, dan efek dari janin yang stress adalah janin BAB dalam perut dan yang dikhawatirkan jika amnion akan termakan dan terhirup dan masuk dalam paru-paru. Usaha terakhir untuk memantapkan SC, saya meminta untuk melakukan USG sebelum Sectio Caesaria. Dan dari hasil USG, dan hasilnya dari dokter radiologi menyatakan bahwa kepala bayi sudah turun tapi belum mencapai pintunya karena volume air ketuban seperti kehamilan 7bulan.


Akhirnya persiapan Sectio Caesaria pun dimulai suster melakukan tes obat terlebih dahulu sebelum nantinya digunakan saat operasi, sepertinya obat untuk anastesinya, tes itu disuntikan. Di bawah kulit dan ternyata rasanya panas saat penyuntikannya, Alhamdulillah setelah ditunggu beberapa saat reaksi baik saya tidak alergi, kemudian saya diminta menggunakan baju operasi dan sebelumnya dengan dibantu suster membersihkan semua bulu kemaluan (rasanya malu, ibu-ibu pula jadi tidak enak hati, saya bilang maaf-maaf terus) selesai suster memasang kateter (untuk penampungan kencing), setelah persiapan selesai suster memindahkan saya ke kasur dorong dan memberi instruksi agar suami menunggu di bagian “ini” (ga paham betul dimana) hanya saja di RS ini untuk Secar suami tidak diperbolehkan masuk karena ruang steril dan sudah banyak yang menemani (dokter kandungan, dokter anastesi, dokter anak, suster dan bidan) bedalah rasanya sama suami yang menemenani, padahal pengennya kaya jaman anak pertama yang melahirkan bisa disupport suami dan biar tahu juga bagaimana pengorbanan seorang ibu, karena sudah peraturan ya oke sajalah. Ruangan operasi siap, badan saya diminta untuk miring dan memeluk suster yang ada disitu yang pasti jenis kelaminnya perempuan πŸ˜‚, kemudian dokter anastesi menyuntikan anastesi dari punggung, rasanya? kok saya ga ngerasain apapun, hanya saja setelahnya mulai terasa kesemutan dan sudah tidak bisa merasakan sakit saat dicubit sepertinya, yang terasa seperti ada senggolan saja. Operasi berjalan -/+ 30 menit (14.30 s/d 15.00) dan ternyata tidak dilakukan IMD sama seperti anak pertama, Hany dilihatkan dan diciumkan ke ibu karena kata bidan disitu kasian baby nya dingin, ga bisa tanya apapun kara rasanya cape. Oh ya selama proses operasi jari kita dijepit sepertinya untuk melihat jantung selain itu di  tangan diberikan suntikan lagi, karena sempat pada saat proses operasi saya bilang kalo sedikit sesak nafasnya dan dokter anastesi menyuntikan obat lagi dan saya tidak sempat tanya untuk apa dan kenapa. Operasi secara berjalan lancar, Ibu dan bayi dalam kondisi sehat, setelah selesai saya diletakan di ruangan observasi dengan jari dijepit untuk melihat detak jantung dan tekanan darah mungkin, disitu rasanya ngantuk, cape, lemes dan lapar πŸ˜‚πŸ˜‚, setelah menunggu lama akhirnya saya masuk ke kamar kembali.

Bius hampir habis, sayatan diperut mulai terasa sakit dan kaki rasanya masih berat seperti orang kesemutan, semakin lama sakitnya semakin terasa bahkan untuk gerak sedikit saja sakitnya semakin menjadi dan ternyata untuk proses recovery pasca Sectio Caesaria membutuhkan tenaga dan perasaan yang luar biasa, batuk atau bersin saja rasanya nano-nano. Menurut saya pribadi dilihat murni dari pengalaman saya, ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan jika harus memilih Sectio Caesaria,

  1. Persiapan Dana,
Baik persalinan normal maupun sectio caesaria pasti membutuhkan persiapan dana, alagkah lebih baik jika dana yang dipersiapkan untuk persalinan bisa untuk mengcover persalinan secar meskipun selama kontrol semua kondisi baik ibu dan janin normal (disini sifatnya hanya untuk berjaga-jaga). Jika memiliki BPJS atau sejenisnya bisa juga menggunakan fasilitas itu namun terlebih dahulu meminta rujukan dari dokter terkait untuk merujuk ke RS yang bekerjasama dengan BPJS. Pengalaman kemarin hanya menambah selisih harga kamar karena permintaan dari saya dan suami untuk naik kelas dari plafon BPJS yang kami punya.

  1. Persiapan Mental
Mayoritas artikel yang saya baca mengenai operasi sectio caesaria, operasi ini memiliki tingkat keamanan yang baik, meski demikian bagi saya pribadi persiapan mental untuk meninggalkan kakak selama beberapa hari lebih dibutuhkan. Karena SC yang saya lakukan merupakan solusi terbaik untuk saya dan janin. Berbeda dengan persalinan pertama, untuk persalinan kedua dengan jalan SC ini suami tidak boleh mendampingi (kebijakan RS yang saya gunakan) alasannya karena steril dan sudah ada beberapa tenaga kesehatan yang mendampingi, diantaranya spesialis kandungan, spesialis anak, spesialis anestesi, dan bidan. Dalam Operasi Caesar terlebih dahulu kita akan diberikan bius yang disuntikan melalui tulang belakang, menurut sebagian orang saat obat disuntikan akan terasa sakit, bersyukur saya tidak merasakan apa-apa hanya sedikit dingin tulang tempat bius dimasukan, kemudian ada tujuh lapisan yang diiris pisau bedah, yaitu lapisan kulit, lapisan lemak, sarung otot, otot perut, lapisan dalam perut, lapisan luar rahim, dan rahim. Dan setelahnya setiap lapisan satu persatu akan dijahit kembali. ( Ada beberapa pendapat juga kalau setiap lapisan kulit dilem, tapi yang saya rasakan kemarin sepertinya dijahit)

  1. Pemasangan Kateter
Salah satu yang saya rasakan kurang nyaman adalah pemasangan katater (selang untuk kencing), adanya katater membuat kita sulit bergerak dan rasa kurang nyaman di area vagina, SC kemarin mama berusaha untuk minum air putih banyak pasca operasi karena yang mama dengar dari perawat disana bisa dilepas jika produksi urin sudah baik, bersyukur pasca SC besoknya katater sudah bisa dilepas. Hanya saja setelah pulang dari RS saya merasakan tidak bisa merasakan keinginan untuk BAK seperti biasanya, meski demikian jika saya bawa ke kamar mandi ternyata BAK dan rasanya sedikit nyeri di area vagina, setelah dikonsultasikan sepertinya ada bakteri atau semacamnya. Sempat diberi obat untuk permasalahan ini namun karena saya rasa obat yang dikonsumsi membuat bayi rewel (setelah saya browsing memang obat yang saya konsumsi mempengaruhi ASI) akhirnya saya stop dan Alhamdulillah beberapa hari kemudian kondisi berangsur normal.

  1. Proses Pemulihan Hebat
Kata siapa SC lebih enak dibandingkan pervaginam? sampai detik inipun belum bisa menikmati enaknya SC sampai beberapa ibu ada yang memilih SC (tanpa kasus permasalahan persalinan). Persalinan pervaginam dalam kurun 7 hari saya sudah bisa keluar rumah dengan membonceng motor dan menggendong bayi dengan leluasa, sedangkan pasca SC dihari ke-2 saya baru bisa benar-benar bangun dan memaksakan untuk jalan, karena diperbolehkan pulang jika sudah bisa jalan. Bisa jalan dengan mudah? tentu saja tidak. Setelah sadar pasca SC saya mulai meraskan kaki saya kesemutan mungkin efek hilangnya bius, rasa sakit di bekas sayatan mulai terasa dan disaat yang sama kita diminta untuk mulai mobilisasi yang dimulai dengan memiringkan badan ke kanan dan ke kiri dan setelah bisa dicoba untuk duduk, dan yang saya rasakan sakitnya luar biasa, perut yang menggelambir rasanya akan tumpah. Apalagi saat tiba-tiba batuk karena tersedak atau ga sengaja ketawa wah jahitan diperut rasanya bergoyang dan itu sakit. Kakak AIko yang menjadi penyemangat saya untuk bisa cepat pulang, dengan menahan sakit dan niat yang bulat dihari yang sama saya sudah bisa berdiri, dan esoknya sudah bisa jalan sekitar 30-50 meter dengan berpegangan. Meski demikian saya gagal pulang dihari ke-2 karena dokter menyarankan agar diobservasi dahulu, perasaan ingin bertemu dengan kakak Aiko memuncak, setelah ijin ke bagian terkait akhirnya kakak dipebolehkan masuk karena kasusnya persalinan bukan sakit yang bisa menular. Recovery di rumah lebih lama, dan bagian tersulit saya rasakan disaat hendak bangun dari tempat tidur dan mengambil bayi untuk menggendongnya. Stop perbedaan pendapat antara SC dan pervaginam, ASI dan sufor, MPASI homemade dan pabrikan karena saya yakin seorang ibu akan mengusahakan yang terbaik untuk anak-anaknya selama dia tahu dan mampu.

  1. Persiapan Hati
Persiapan hati ini pendapat saya secara subjektif, menahan gejolak saat berpisah sementara dengan si kakak karena kami terbiasa bersama sehari penuh (maklumlah full mom), mungkin bagi fullmom yang lain yang hendak melakukan SC hal ini perlu dipersiapkan. Sibling Rivalry, saya kira dengan mengikutsertakan kakak disetiap kegiatan yang berkaitan dengan mempersiapkan kelahiran adeknya akan membawa dampak yang signifikan, ternyata si kakak tetap merasakan perubahan yang besar, beberapa kali tantrum saat melihat si adek akan disusui, dan meminta adek menjauh dari saya dan sedikit saja ada yang kurang berkenan si kakak akan tantrum menunjuk-nunjuk adek agar tidak mendekati saya seakan ingin menyingkirkan adeknya. Untung ada ibu mertua yang dengan sabar selama 10 hari merawat saya, dari mencuci, memasak, merawat rumah, merawat saya dan bayi semua ibu yang melakuka, kenapa bukan Mama saya? Karena kondisi kesehatan Mama tidak fit untuk merawat ibu pasca melahirkan dan bayi yang baru dilahirkan. Setelah ibu mertua pulang saya melakukan semua sendiri dengan kondisi tubuh yang belum stabil hal ini sedikit menyulitkan dan menguras emosi saya ternyata, pecah emosi berubah jadi marah dan sedikit teriak tak terhindarkan, dan menyesal setelahnya, berkali-kali hal ini berulang. Baru merasakan sedikit enak bergerak setelahnya kira-kira 1bulan.

Setelah merasakan proses persalinan secara pervaginam dan sectio caesaria, mana yang lebih saya pilih? pastinya proses persalinan secara pervaginam, meski demikian jika ada permasalahan yang mengharuskan persalinan secara SC maka yang terbaik adalah melahirkan melalui SC. Tidak ada persalinan yang lebih baik atau terbaik, semua terbaik dengan melihat kebutuhan dan keselamatan Ibu dan bayi. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar