Halaman

Jumat, 16 Maret 2018

Rokok dan Aku


Kenangan Masa Kecilku
Seperti malam-malam biasanya, kau berasyik masyuk dengan batangan yang hampir tiap waktu terselip diantara bibirmu, dan disetiap hisapannya membuat asap mengepul di dalam rumah tipe 21 yang mana jaman dahulu orang menyebutnya RSS dan tak sedikit orang mengartikannya dengan Rumah Susah Selonjor karena memang hanya ada ruang tamu dan kamar tidur dan kamar mandi yang jamah dahulu ada diluar rumah. Malam ini kau sendiri dan tidak sedang berlomba memenuhi ruangan ini dengan asap bersama teman-temanmu lainnya. Jadi hari ini kami sedikit bersyukur bisa menikmati malam karena asap yang tidak sepekat biasanya.

Tahukah kau? pastilah tahu, bahwa hampir setiap malam kami, ya kami tiga anak perempuanmu berlomba menjadikan kepulan-kepulan asapmu pengisi paru-paru kami yang membutuhkan oksigen untuk bertahan hidup. Kami tidak dapat memilih saat itu, terlalu belia karena usia kami tidak lebih dari jumlah jari pada satu tangan. Hidung ini rasanya mengais setiap kepulan asap yang kau kepulkan di udara. Dan dengan lingkungan seperti itu pantas rasanya diusia kurang dari 1 tahun, kami (saya dan adik saya) terkena asma dan bronchitis. Mama bersyukur karena kakak sulung kami tidak terkena imbasnya. Sehingga lelah hati, fikir dan tenaga tidak tiga kali lipat, tapi hanya dua kali lipat (miris ya). Mama selalu merawat kami dengan telaten, menunggui kami berlomba mengais oksigen yang bersih diantara kepulan-kepulan asap yang memenuhi ruang demi ruang, ketidaktahuan Mama membuat ini terjadi berulang. Tak jarang suara nafas kami yang berbunyi ngiikk...ngiikk...ngiikk bergantian seperti irama orkestra, saling susul menyusul disertai dengan tarikan dada yang kembang kempis beradu dengan suara jangkrik atau katak di malam hari, sesekali Mama menyeka dan melap keringat dingin yang keluar dari sekujur badan kami, berjaga mengganti celana-celana kami yang basah karena kencing (saat itu belum ada diapers atau mungkin tidak ada budget untuk membeli) karena khawatir membuat kami kedinginan.
Tak jarang kami kehabisan celana, mungkin karena kami mengkonsumsi susu formula saat itu sehingga intensitas buang air kecil kami lebih sering. Keinginan mencuci celana-celana kami yang terkenal pipis terhalang oleh kesibukanmya mengasuh 3 anak dengan selisih 2 tahun yang dua diantaranya terkena asma dan bronchitis.

Jangan tanya kenapa kami tidak membeli celana tambahan untuk menambah celana-celana kami, aahh tidak semudah itu ternyata. Putaran penghasilan setiap bulannya sudah terkuras untuk biaya berobat kami yang setiap bulan rutin keluar masuk Rumah Sakit untuk kontrol, susu formula (saat itu menjadi barang yang spesial) dan pastinya rokok yang dibeli setiap bulannya, aahh kenapa ada rokok disetiap bulannya. Apakah tidak bisa menghentikannya demi kami?aahh sepertinya tantangan masih panjang. Kami baru bisa lepas dari semua rutinitas kontrol bulanan dan penyakit ini disaat usia kami menginjak 12 tahun, rasanya kenyang sekali dengan adegan minum obat.


Kini Aku Menjadi Ibu
Ketika saya diijinkan untuk menjadi ibu, keinginan terbesar adalah menjauhkan asap-asap itu dari anak-anak kami. Berharap agar mereka tidak seperti ku nantinya yang harus bolak-balik kontrol ke rumah sakit sampa-sampai perawat dan dokter hapal dengan saya. Bersyukur mendapatkan suami tidak merokok atau malah sedikit anti terhadap rokok, ahhh lega rasanya anak-anak nanti tidak seperti ibunya yang setiap hari harus menjejalkan asap disetiap nafasnya, syukurlah nak.  Tapi sayang sekali harapan itu pupus, diusianya yang menginjak 2,5 th, anak kami didiagnosa TB. Padahal kami mengusahakan yang terbaik untuk anak kami, ASI eksklusif bahkan hingga 2 tahun 4 bulan, selalu mengusahakan MP-ASI homemade, snack yang berbau MSG dan sejenisnya hampir tidak pernah, tapi kenapa ia harus merasakan itu juga..setiap hari saat terbangun yang harus dikonsumsi adalah obat TB dan tidak boleh terputus seharipun selama 6 bulan lamanya. Padahal saya sendiri yang memberikan obat setiap hari merasa bosan, apalagi dia. Bersyukur kau anak yang baik, 6 bulan kerja sama kita membuahkan hasil yang baik.

Lalu bagaimana anak kami bisa mengidap TB, sedang kami selalu memberikan yang terbaik. Di rumah tidak ada asap selain berasal dari kompor gas. Mungkin ini takdir, ahh kenapa kita terburu-buru menyalahkan takdir, bukankah ini takdir yang seharusnya bisa diubah? andaikan setiap orang menghargai orang lain, menyadari dari hisapan-hisapan rokok yang dikepulkan di ruas-ruas jalan membahayakan kami, asap yang dikepulkan sembari menaiki kendaraan membahayakan kami yang berada dibelakangnya. Andaikan mereka berfikir bahwa kesenangan mereka yang membuat mereka menjadi egois dapat menyakiti banyak orang terutama ibu hamil dan anak-anak.

Kalian tahu? atau pura-pura belum tahu, bahwa bayi yang tepapar asap rokok dapat mengalami gangguan pernafasan dan ketidakteraturan detak jantung. Kondisi ini menjadikan si kecil rentan mengalami sindrom kematian tiba-tiba (Sudden Infant Death Syndrome). Sedangkan anak-anak yang lama terpapar asap dari perokok aktif dalam waktu yang cukup lama dapat mengalami beragam gangguan medis akut pada bagian organ pernafasan mereka terutama organ paru-paru termasuk: asma, bronhitis, infeksi telinga, kangker darah, batuk rejan, gangguan indra penciuman, meningitis, pneumonia, dan beragai gangguan medis lainya. Ahh mukin kalian tidak tahu, atau kalian pura-pura tidak tahu.
Jangankan untuk kami, untuk dirinya saja mereka tidak peduli.

Saya tidak menyalahkan kalian sepenuhnya, disini ada andil kami sebagai orang tua yang sepatutnya bertanggung jawab penuh atas keadaan anak-anak kami. Harusnya kami tidak membiarkan dia terkena semua paparan asap. Tapi apa kami harus selalu berdiam diri di rumah, tidak bolehkan kami perokok pasif hanya sekadar keluar rumah mencari udara segar, atau  bepergian ke manapun se-kehendak kami. Tidak bisakah kita hidup berdampingan dengan saling menghargai hal yang pantas diberikan kepada orang lain dan kita diterima dengan sepantasnya.

Kami berusaha menjaga dengan apa yang kami bisa lakukan, keluar ke tempat yang minimal ada asap rokok, anak-anak kami pakai kan masker untuk meminimalisir asap yang masuk melalui hidung, meminimalisir keluar rumah agar meminimalisir polisi yang terhirup, menjaga agar anak tetap makan sesuai kebutuhan gizinya untuk menjaga daya juang tubuhnya, menggeser-geser badan kami saat ada perokok disekitar kami, agar anak kami tidak terpapar, disaat seperti itu sepertinya malah kami yang seakan salah dan harus mengerti karena disaat yang sama ikut berdiri di duniamu, kami harus dengan sadar diri menyingkir kalau tidak mau ikut berasik masyuk dengan setiap kepulan asapmu.

Aahh andaikan semua perokok tahu bahayanya untuk “kami”. Mengingat-ingat itu rasanya membuat saya semakin tidak respek dengan orang-orang yang tetap menjejalkan lintingan-lintingan itu ke mulutnya, mengepulkan asapnya tanpa peduli ada anak-anak kah atau ibu-ibu yang sedang hamil di sekitarnya, terpenting bagi dirinya keinginanya ter-salurkan.











Tidak ada komentar:

Posting Komentar