Halaman

Minggu, 19 November 2017

Penyebab dan Solusi GTM pada BaTiTa



Halo hola halo hola mama ketce...

Mama Mia lagi pengen story tentang GTM alias Gerakan Tutup Mulut yaitu kondisi disaat anak menutup rapat mulut sampai menyemburkan makanan atau bahkan melepehkan kembali makanan yang sudah masuk ke dalam. Banyak faktor penyebab GTM pada balita bisa karena tumbuh Gigi, sedang sakit, bosan dengan menu, tidak sengaja makan makanan yang memiliki rasa kuat (manis), ataupun trauma makan seperti yang terjadi pada kakak Aiko (dan Alhamdulillah berangsur membaik setelah merubah suasana makan, meski sekarang masih berproses). Adek Althar 2minggu yang lalu juga mengalami GTM, tidak mau makan-makanan menu 4* dan hanya mau makan buah-buahan saja. Bingung, khawatir, takut kalau kebutuhan gizinya tidak terpenuhi tentu saja terjadi meski adek Al ini anak ke2, menurut Mama setiap orang tua pasti menemukan hal baru dengan setiap-setiap anak, karena setiap anak membawa sifat-sifat yang berbeda dan respon yang berbeda pula. Setelah diobservasi Mama menduga GTM Adek karena pilek atau tumbuh Gigi (adek suka memasukan jari ke mulut dan banyak keluar liur), mama mencobanya beberapa alternatif menu, mulai dari turun tekstur, naik tekstur, mencoba menu MPASI dingin ataupun membuat menu sekali suap (perkedel ayam sayur) namun tetap saja adek Al menutup mulutnya, pernah juga mencoba memaksa memasukan makanan yang terjadi malah adek Al menangis histeris. Tidak ingin mengulang seperti kakak Aiko yang trauma makan, saat Althar tidak mau makan Mama mencoba menambahkan buah yang mengenyangkan seperti alpukat, pisang, maupun mangga (tetap bergantian dengan buah rendah serat ya mam biar tidak sembelit dan perhatikan konsumsi air), meski Mama juga tetap menawarkan makanan meski yang masuk maximal hanya 5 suap yang penting Mama ga permisif yang hanya menawarkan makanan tanpa memikirkan kandungan gizi (yang penting anak makan) hehehe. Dan bersyukur sekali setelah hari ke-4 adek mulai mau makan MPASI meski dalam porsi kecil (kalo memang si bayi hanya bisa porsi kecil usahakan porsi kecil tapi sering). Dan setelah masuk hari ke 7 adek sudah bisa makan nasi tim kembali dan porsi sesuai dengan usianya. Nah mam untuk lebih jelasnya mengenai GTM Mama coba memberi artikel mengenai GTM yang ada di grup fp SAM ya.

Mengapa GTM (harus) Terjadi?

Biasanya terjadi di rentang umur 8 bulan - 10 Bulan. Ada beberapa hal yang bisa menyebabkan GTM alias Gerakan Tutup Mulut di saat ber MP ASI Rumahan. Kalo rada nggak scientific ya maap dehhh... kesimpulan ini dirangkum dari pengalaman pribadi dan sharing teman-teman di forum dan Milis MPASI Rumahan :
  1. Masa tumbuh gigi
  2. Bosan dengan tekstur halus
  3. Perbedaan kenaikan tekstur makanan yang drastis
  4. Sempat 'tercolek' makanan /minuman lain yang ditambah gula-garam
  5. Bosan dengan suasana makan
  6. Trauma makan/sendok
  7. Sakit/tidak enak badan

Masa Tumbuh Gigi
Ini adalah salah satu masa yang memicu ke-emoh-an anak untuk membuka mulutnya dan membiarkan makanan masuk. Pusing? jelassss!
Tapi kita nggak boleh memarahi bayi mungil kita untuk alasan ini, coba kita ingat-ingat kapan terakhir kali kita merasa pusing, badan panas karena geraham bungsu kita tumbuh? Pasti males makan, males ngapa-ngapain. Itulah yang terjadi dengan bayi kecil kita. Saat gigi pertamanya tumbuh menggeliat merobek gusinya yang lembut, tentu terjadi ketidaknyamanan, entah itu gusi sakit, badan panas, dll.

Biasanya gigi bayi mulai tumbuh di 7/8 bulan, tapia da juga yang sudah bergigi di usia 5 bulan. Tenang, semua bayi berbeda-beda. Anak saya baru numbuh gigi pertama di usia 9 bulan.
Bagaimana Solusinya?

Jadi, kalau bayi kita menolak makanannya coba cek gusinya. Apakah ada yang kemerahan? bila YA, maka cobalah membuat makanan yang lebih encer. Berikan makanan 'penyaman' seperti buah dingin yang bisa digigit-gigit, momsicle alias es loli dari ASI (berhasil untuk anak sayah), berikan jus/puree buah manis dan dingin, dan kalau sangat mengganggu sehingga membuat bayi panas... cobalah ditreatment dengan parasetamol. Parasetamol selain menurunkan panas juga mengurangi rasa sakit akibat tumbuh gigi.



Bosan Dengan Tekstur Halus
Ini unik, dan perlu kejelian Ibu untuk mengetahui hal ini. Saya pernah di-curhatin teman, anaknya 7 menuju 8 bulan nggak mau makan buburnya, ibunya panik dan membuat bermacam variasi bubur en de blah blah blah... Dan si anak tetep GTM. Sampai suatu kali, ibunya iseng membuat nasi tim yang disaring sekali. Disajikan dengan kuah sup tofu.... Anaknya langsung sigap makan!
Oh, ternyata si bayi butuh 'tantangan' mengunyah toh?

Nah, jadi alternatif ini bisa Ibu gunakan kalau bayi mulai GTM. Mungkin dia bosan dengan tekstur makanannya yang terlalu 'bayi', dan nggak perlu terlalu khawatir dengan masalah peningkatan tekstur ini. Ada anak 8 bulan 2 minggu udah nggak mau makan tim saring, maunya nasi tim beneran dan di 9 bulan menuju 10 dia sudah makan nasi lembek.

Selama tidak ada masalah pencernaan seperti diare, sembelit dan berat badan tetap bertambah, berikan tekstur yang disukai bayi. Kadang memang bayi perlu tantangan dalam acara makan-makannya.

Perbedaan Tekstur Makanan Yang Drastis
Ini kebalikan dengan yang atas, kalau yang ini biasanya ibunya yang nafsu pengen mengenalkan tekstur baru pada bayi padahal si bayi masih ingin menikmati tekstur lama makanannya yang lebih lembut dan lebih cair. Misalnya : Bayi 8 bulan dan masih menikmati makanan tim saring 2x-nya, tiba-tiba diberi nasi tim utuh. Ini bisa 'mengundang' GTM, Bu. Perubahan tekstur makanan selain harus mengecek 'pertanda' dari bayi, juga harus dilakukan ber-ta-hap.

Misal untuk kasus diatas : Dari saring 2X menjadi saring1x, lalu di sekedar ditekan-tekan di mangkuk, hingga akhirnya nasi tim beneran.

Oh ya, jangan merasa gagal kalo tiba-tiba bayi meminta 'mundur-tekstur'. Mungkin memang sedang merasa tidak nyaman/bosan, mengalah sebentar nggak dilarang, asal tetap dilatih untuk mencintai tekstur baru-nya yang lebih padat (^_^)

Ter'colek' Makanan Yang Ditambah Gula/Garam
Ini pengalaman yang 'anakguwebanggeuttt'. Jangan dikira anak saya bebas GTM, wuuuu.... nggak asik namanya kalo nggak pernah ngerasain GTM. Gerakan tutup mulut Azwa, terjadi di usia 9 Bulan. Bukan karena numbuh gigi atau perang dengan tekstur makanan, tapi karena LEBARAN!
Jadi (rada ngobrol dikit ya), pada saat lebaran tiba, sama neneknya dikasihlah si Azwa ini ketupat penyet dan sayur opor encer plus daging suwirnya. Belum lagi setiap hari pasti nongkrong di depan stoples kue kering keju dan nastar *keluh*. Semua usaha ibunya untuk menghindari penambahan gula garam dalam makanannya musnah sudahhh.

Akibatnya, sepulang dari rumah nenek, dia nggak mau makan dan menutup mulut rapat-rapat kalau makan masakan maknya yang relatif lebih hambar dari masakan lebaran. OK, 'good'!
Pusing juga kalo makannya nggak sesuai dengan porsi biasanya, bisa-bisa berat badan turun nih. Jadi solusi saya pada saat itu adalah mengalah untuk menang. Saya mengalah menggunakan sedikiiiit tambahan garam pada masakan, namun dalam waktu kurang lebih 1 minggu saya kurangi terus penggunaannya sampai akhirnya... HOREEEE.... balik lagi tanpa penambahan garam! Ibu menang (lagi).

Bosan Dengan Suasana Makan
Ya, namanya juga manusia walopun masih kecil. Pasti ada kalanya bosan dengan acara dan suasana pada saat makan. Entah bosan dengan ritual, dengan lokasi dll.
Memang, paling OK kalo membiasakan anak makan dengan posisi duduk (di highchair/stroller) menghadap meja makan. Tapi terkadang hal ini menjadi hal yang membosankan. Anak saya, sejak umur 6 bulan sampai 9 bulan terrrrtib bukan main makan di highchair dan mejanya. Sampai suatu ketika GTM melanda (seperti tulisan di atas). Maka kain gendongan menjadi penyelamat, makan di halaman rumah menjadi alternatif baru, kadang sambil nonton TV.

Nggak bagus dan nggak ideal. Namun saya tetap harus menghormati preferensi anak saya. Toh setelah (lumayan) besar, dia bisa kembali lagi ke meja makan, duduk di kursi dan makan bareng.

Ada lagi cerita ibu milis, waktu anaknya males makan, dia ganti sendoknya dengan pestle/ulekan kayu yang ada di homemade baby foodmaker-nya. Baru deh anaknya makan... heheheh.. ternyata bosan dengan cara lama dan bayinya ingin bereksplorasi.

Oh ya, kunci terpenting saat anak mulai bereksplorasi dengan makanannya adalah.... jangan takut berantakan saat bayi mulai meminta makan sendiri. Mereka juga ingin menjadi mandiri dan kita akan senang bila mereka mandiri. Jadi.... walaupun lantai pasti ikutan kenyang karena makanan jatuh semua, tetaplah sabar. Alasi lantai dibawah kursinya dengan koran bekas / plastik lebar sehingga mudah membersihkannya.

Trauma Sendok
Menurut saya, kadar GTM seperti ini lumayan berattt. Biasanya terjadi karena beberapa faktor:
- karena dipaksa minum obat
- karena dipaksa disuapi makanan

Anak yang dipaksa minum obat dengan sendok, sampai dicekoki segala macam bisa membuatnya trauma melihat sendok dan nggak mau buka mulut walaupun isinya bukan obat. Jadi, ada alternatif lain memberikan obat pada anak, yaitu menggunakan pipet dan harus dibujuk baik-baik. Jangan dibentak, apalagi pake gaya "nyekokin". Wah... parah nantinya...

Lalu yang kedua, dipaksa makan. Maksudnya, si anak sedang nggak mood makan/udah kenyang lalu dipaksa makan dengan cara menjejakan sendok secara paksa ke mulut kecilnya. Atau, belom selesai mengunyah dipaksa mangap atau sendok udah standby di depan mulutnya.
Tolong deh, berempati sedikit.... Kalau kita sedang mengunyah makanan dan ada sendok isi makanan lagi sudah menempel di depan mulut kita apa nggak bikin kesal?
Lalu, kalau kita sudah merasa cukup kenyang, sudah cukup makan lalu dipaksa membuka mulut dengan cara dicekoki pasti juga kesal, dan TAKUT. Apalagi sampai ada acara dipukul, dicubit dsb...

Jangan sampai ya, Bu. Kalau ngadepin anak makan memang harus ekstrasabar. Walo -jujur banget- saya juga pernah 'naik-darah' kalo anak saya lelet makannya sementara emaknya buru-buru mau ngerjain yang lain.. Namanya juga manusia (^_^)

Bagaimana cara menyelesaikan masalah ini? Lumayan berat, pertama semua jadi harus kembali ke NOL. Mencoba membujuk makan tanpa sendok, lalu pelan-pelan diajarkan menggunakan sendok, biarkan anak memegang sendoknya untuk mainan, sementara kita memegang sendok lain untuk menyuapi. Minta maaf. Penting itu.... dan harus TULUS. Saya nggak bercanda, saya serius. Anak kecil juga paham kok kalo ibunya marah dan menyesal. Dan yang penting.... jangan diulangi lagi atau GTM akan terulang lagi.

Sakit / Tidak Enak Badan
Bagian ini spesialis anak saya. Heheheh.... Saya amati anak saya di 6 bulan pertama memulai makan (6 bulan - 12 bulan) sempat ada acara GTM karena dia sakit (pilek/batuk) dan tidak enak badan (keseleo, salah urat). Perilakunya menjadi "mbayi".
Maksudnya begini, dia jadi lebih suka menyusu, makan makanan lebih lembek, dan merengek kalau diberi makanan 'reguler'.

Saat bayi sakit, ternyata memang perlu diberikan makanan yang lebih cair. Kalaupun ia ingin menyusu saya ya berikanlah. Beri perawatan yang tepat dan menyamankan, termasuk makanan yang menyamankan (Karmel:1999). Sup ayam cair hangat untuk anak pilek, atau es loli dari puree buah untuk anak tumbuh gigi.

Soal 'tidak enak badan', ini sih antara percaya nggak percaya ya Bu. Tapi menurut Mbah Dukun Pijat anak saya, bayi / balita mungkin malas makan karen ada yang 'nggak enak' dengan badannya. Biasanya kalau dibawah setahun karena perkembangan motorik kasar seperti belajar merangkak-memanjat-berjalan dll bisa membuat -secara tidak terasa- si anak keseleo atau pegal-pegal lantas malas makan aka GTM. 

https://web.facebook.com/notes/homemade-healthy-baby-food/tips-gtm-alias-gerakan-tutup-mulut/211138118906710/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar