Haloo mama ketce...
Waktu kakak Aiko 3 tahun, sering banget marah-marah dan mulai bisa protes dll, awalnya mama pikir karena adanya adek Al, dan pas banget dapat artikel di grup FB tercinta yang sering mama Mia kepoin, yup di grup Sharing Asi dan MPASI (SAM), monggo mama dikunah dulu artikel kerennya.
Jadi gini loh mommies, tahapan2 atau fase2 perkembangan emosi, nalar, kognitif, dll yang bukan motorik kasar itupun ada tahapannya, secara garis besar dapat di kelompokkan menjadi :
1. Fase Kepompong.
Fase ini adalah fase dimana anak lebih merasa nyaman dengan orang2 yang berada di lingkaran terdalamnya, biasanya adalah ibunya. Anak merasa cemas bila berpisah dengan Inang (biasanya, Ibu-separation anxiety), makanya ini fase dimana anak jadi kayak perangko sama sang ibu, pake lem super glue, jadi lengket pake banget.
Di fase ini, anak mengalami perubahan cara pandang yang drastis, karena sudah dapat mulai melihat dan memperhatikan serta menarik kesimpulan secara sederhana terhadap lingkungannya. Kebanyakan kurang merasa nyaman dengan orang – orang atau lingkungan baru (Stranger Anxiety), jadi jangan di paksa atau di marahi ya kalau anak2 ini kabur atau ngumpet, bahkan namgis kalo ketemu orang atau lingkungan baru. Fase ini di mulai di usia 8 bulan, terparah mulai di usia 14 bulan – 18 bulan, apalagi di usia ini gusi tebalnya sedang di terobos gigi2 tajam. Gak nyamannya luar dalem deh pokoknya.
2. Fase Wonderful Two (menjelang 2 tahun – menjelang 3 tahun).
Sebut saja Wonderful two agar kita pun sebagai orang tua dapat melihat semua perilaku anak yang mulai mandiri, ngeyel, susah di kasih tau, ke-aku-annya besar, pelit, mudah menangis, bahkan superaktif menjadi sesuatu yang indah. Ya, Indah, meskipun gak seindah kalo cuma ngurus ponakan ya. Ngurus ponakan gak tiap waktu, gak tiap hari.
Di fase ini, akan cenderung pelit, sulit berbagi, mulai memahami sebab akibat, dan ingin menunjukkan apa yang di milikinya kepada dunia, di fase ini sering di sebut dengan masa remaja pertama. Nah.. make sense dong, inget gak jaman kita umur remaja.. belasan gitu deh.. hobinya apa kalo di kasih tau orang tua? Yep, NGEYEL.. GAK MAU DI ATUR-ATUR. Samaaaaa…. Anak-anak di fase inipun begitu.. cara paling pas untuk handle para remaja cilik ini dengan bernegosiasi.
3. Fase Amazing Three.
Fase ini, anak – anak mulai bisa menarik persepsi dari apa yang selama ini orang tuanya sudah ajarkan, bagaimana menghadapi kondisi yang kontra dengan keinginannya, bagaimana menghadapi penolakan, bagaimana cara mengambil hati orang lain, dll. Intinya di fase ini, anak akan menjadi bayangan orang tuanya. Bayangkan kalo sebelum usia ini orang tuanya senang melakukan kekerasan fisik, apa yang anaknya akan lakukan di usia ini? Anak – anak akan over reaktif terhadap hal – hal yang bersifat penolakan atau kontra dengan keinginannya dan hal – hal yang selama ini diterapkan di lingkungan dalamnya.
Di usia ini, anak akan lebih banyak mengatur orang – orang di sekitarnya. Kalo di fase wonderful two, anak menjadi “Hai world, Im here, look at me, I’m exist, I can do everything by my self”, kalau di fase Amazing three menjadi “I’m the world, lets play simon say’s”.
Jadi, di usia ini, anak – anak akan sering sekali melarang – mengiyakan apa2 saja yang harus dilakukan oleh orang lain. Anak – anak belajar dari mana? Darimana lagi kalo bukan dari kita orang tuanya? Di mix sama pembentukan persepsi anak yang sudah dapat memakai logika berkebalikan (cth : kenapa gak gini, kenapa gak gitu?). Selain itu, anak akan lebih butuh sosok ayah dari sebelumnya, karena pada usia ini anak belajar kepercayaan diri dan keberanian dari ayah.
4. Fase Fantastic Four.
Di fase ini, emosi – emosi anak yang sebelumnya meledak – ledak sudah mulai bisa di bentuk dan di redam, kasarnya, udah mulai ‘jinak’. Karena di usia ini, anak – anak mulai sadar keberadaan dirinya, apa saja kegiatannya dan siapa2 saja orang yang dapat menguntungkan dirinya. DI usia ini, anak akan sangat banyak bercerita, atau kalau sudah punya kakak, dia akan menjadi buntut dan copy cat sang kakak. Dan jangan kaget kalo di fase ini dia bisa jadi over protektif pada ibunya. Di usia ini, anak butuh sosok ayah, untuk dijadikan role model.
5. Incredible Five.
Di fase ini anak sudah memiliki suatu bentuk kepercayaan terhadap dirinya dalam melakukan sesuatu dan mengenalkan keberadaannya dengan baik ke lingkungan luarnya. Anak sudah mulai lebih mudah bersosialisai dan berintraksi dengan orang lain, terutama teman2 sebaya nya. SUdah mulai disiplin dan menaati peraturan (dan meminta orang lain menaati peraturan tsb). Jadikan anak sebagai partner dalam fase ini, karena dengan begitu anak – anak akan memiliki keinginan dan kepercayaan diri yang baik juga tidak mudah putus asa dalam menyelesaikan sesuatu.
1. Fase Kepompong.
Fase ini adalah fase dimana anak lebih merasa nyaman dengan orang2 yang berada di lingkaran terdalamnya, biasanya adalah ibunya. Anak merasa cemas bila berpisah dengan Inang (biasanya, Ibu-separation anxiety), makanya ini fase dimana anak jadi kayak perangko sama sang ibu, pake lem super glue, jadi lengket pake banget.
Di fase ini, anak mengalami perubahan cara pandang yang drastis, karena sudah dapat mulai melihat dan memperhatikan serta menarik kesimpulan secara sederhana terhadap lingkungannya. Kebanyakan kurang merasa nyaman dengan orang – orang atau lingkungan baru (Stranger Anxiety), jadi jangan di paksa atau di marahi ya kalau anak2 ini kabur atau ngumpet, bahkan namgis kalo ketemu orang atau lingkungan baru. Fase ini di mulai di usia 8 bulan, terparah mulai di usia 14 bulan – 18 bulan, apalagi di usia ini gusi tebalnya sedang di terobos gigi2 tajam. Gak nyamannya luar dalem deh pokoknya.
2. Fase Wonderful Two (menjelang 2 tahun – menjelang 3 tahun).
Sebut saja Wonderful two agar kita pun sebagai orang tua dapat melihat semua perilaku anak yang mulai mandiri, ngeyel, susah di kasih tau, ke-aku-annya besar, pelit, mudah menangis, bahkan superaktif menjadi sesuatu yang indah. Ya, Indah, meskipun gak seindah kalo cuma ngurus ponakan ya. Ngurus ponakan gak tiap waktu, gak tiap hari.
Di fase ini, akan cenderung pelit, sulit berbagi, mulai memahami sebab akibat, dan ingin menunjukkan apa yang di milikinya kepada dunia, di fase ini sering di sebut dengan masa remaja pertama. Nah.. make sense dong, inget gak jaman kita umur remaja.. belasan gitu deh.. hobinya apa kalo di kasih tau orang tua? Yep, NGEYEL.. GAK MAU DI ATUR-ATUR. Samaaaaa…. Anak-anak di fase inipun begitu.. cara paling pas untuk handle para remaja cilik ini dengan bernegosiasi.
3. Fase Amazing Three.
Fase ini, anak – anak mulai bisa menarik persepsi dari apa yang selama ini orang tuanya sudah ajarkan, bagaimana menghadapi kondisi yang kontra dengan keinginannya, bagaimana menghadapi penolakan, bagaimana cara mengambil hati orang lain, dll. Intinya di fase ini, anak akan menjadi bayangan orang tuanya. Bayangkan kalo sebelum usia ini orang tuanya senang melakukan kekerasan fisik, apa yang anaknya akan lakukan di usia ini? Anak – anak akan over reaktif terhadap hal – hal yang bersifat penolakan atau kontra dengan keinginannya dan hal – hal yang selama ini diterapkan di lingkungan dalamnya.
Di usia ini, anak akan lebih banyak mengatur orang – orang di sekitarnya. Kalo di fase wonderful two, anak menjadi “Hai world, Im here, look at me, I’m exist, I can do everything by my self”, kalau di fase Amazing three menjadi “I’m the world, lets play simon say’s”.
Jadi, di usia ini, anak – anak akan sering sekali melarang – mengiyakan apa2 saja yang harus dilakukan oleh orang lain. Anak – anak belajar dari mana? Darimana lagi kalo bukan dari kita orang tuanya? Di mix sama pembentukan persepsi anak yang sudah dapat memakai logika berkebalikan (cth : kenapa gak gini, kenapa gak gitu?). Selain itu, anak akan lebih butuh sosok ayah dari sebelumnya, karena pada usia ini anak belajar kepercayaan diri dan keberanian dari ayah.
4. Fase Fantastic Four.
Di fase ini, emosi – emosi anak yang sebelumnya meledak – ledak sudah mulai bisa di bentuk dan di redam, kasarnya, udah mulai ‘jinak’. Karena di usia ini, anak – anak mulai sadar keberadaan dirinya, apa saja kegiatannya dan siapa2 saja orang yang dapat menguntungkan dirinya. DI usia ini, anak akan sangat banyak bercerita, atau kalau sudah punya kakak, dia akan menjadi buntut dan copy cat sang kakak. Dan jangan kaget kalo di fase ini dia bisa jadi over protektif pada ibunya. Di usia ini, anak butuh sosok ayah, untuk dijadikan role model.
5. Incredible Five.
Di fase ini anak sudah memiliki suatu bentuk kepercayaan terhadap dirinya dalam melakukan sesuatu dan mengenalkan keberadaannya dengan baik ke lingkungan luarnya. Anak sudah mulai lebih mudah bersosialisai dan berintraksi dengan orang lain, terutama teman2 sebaya nya. SUdah mulai disiplin dan menaati peraturan (dan meminta orang lain menaati peraturan tsb). Jadikan anak sebagai partner dalam fase ini, karena dengan begitu anak – anak akan memiliki keinginan dan kepercayaan diri yang baik juga tidak mudah putus asa dalam menyelesaikan sesuatu.
Sumber : https://web.facebook.com/groups/Sharing.Asi.Mpasi/permalink/548621362004494/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar