Hai mama ketce...
Bertepatan dengan hari Ibu, Rumbel Literasi Media IIP Semarang lagi ngadain Gebyar Literasi Media IIP Semarang, nah rulesnya kita diminta untuk buat postingan tentang kisah ibu kita yang menginspirasi cara pola asuh kita ke anak-anak sekarang/ way of life kita sekarang, ini kisah Mama Mia mama ketce. Siapin tisu ya...alah gaya inih...
Beberapa hari ini lagi jadi ahli gizinya Mama, beberapa Minggu yang lalu Mama telpon kalau Kolesterolnya naik jadi 450 dengan TG/Trigliserida 650 padahal saya juga ga begitu paham tentang kolesterol dan sejenisnya, saya coba bertanya mah normalnya berapa? Mama menjawab untuk kolesterol total <200 dan TG <150, astagfirullah 4 kali lipat dari yang seharusnya saya kaget minta ampun kok tinggi sekali, padahal Mama juga punya sedikit masalah jantung yang detaknya kadang tidak beraturan apa lagi kalau lagi ada yang dipikirkan. Secara tidak sadar jari-jari ini mencari informasi dari dunia maya dengan tetap memperhatikan rujukan web-web yang valid, hampir nangis rasanya dapat kabar dari Mama sudut-sudut mata ini rasanya berkumpul air yang hampir tumpah dan jari-jari ini sedikit tidak bisa direm gerakannya, dalam hati bergumam ya Allah kuatkan Mama, karena saya tau Mama orang yang kuat.
Beda dulu beda sekarang, Mama yang sekarang ini apa-apa difikirkan dan bisa mendadak drop beda sekali dengan Mama waktu itu. Mendadak saya menerawang dan menelisik ingatan-ingatan jaman kecil Mama wanita yang kuat dan tangguh. Mama dikaruniai 4 orang anak 3 perempuan dan 1 laki-laki ragil. Anak pertama sampai ketiga selisih 2 tahun semua, hanya ke yang ragil selisih 6 tahun. Papa bekerja sebagai PNS dan Mama menjadi ibu rumah tangga, mungkin karena ini dari kecil cita-cita saya jadi ibu rumah tangga karena melihat keikhlasan Mama, kesabaran maa dan Mama yang kuat. Setelah menikah Mama dan papa hidup di perumahan RSS tipe 21 dengan beralaskan plester pada saat itu, papa perokok aktif yang intensitas merokok di dalam rumah bisa dikatakan sering dan qodarullah saya dan adik di usia bayi (3 bulan kata Mama) terkena asma dan bronchitis, hampir setiap malam kambuh, nafas naik turun hingga bunyi “ngik-ngik” dan keringat dingin keluar yang mengharuskan Mama terjaga untuk mengganti pakaian kami yang terkadang habis stocknya hingga hanya menggunakan kaos singlet tanpa celana (karena habis dan kondisi ekonomi tidak memungkinkan menggunakan diapers) hanya ditutup kain. Ekonomi PNS jaman itu tidak seperti sekarang, jaman dulu wanita lebih memilih pedagang atau supir dibanding PNS karena kecilnya gaji saat itu, beda dengan sekarang PNS jadi rebutan, setiap gajian hanya cukup untuk membeli susu untuk saya dan adik agar tidak kekurangan gizi karena susahnya makan, dan saat itu susu formula masih dianggap baik. Untuk makan Mama saat itu seadanya, kadang Mama harus meminta ijin pada pedagangnya untuk minta gajih-gajih yang menempel di daging ayam yang ada di warung (jadi ga beli ayamnya hanya minta gajih-gajihnya saja, padahal sekarang dibuang-buang kaya gituan) agar sop yang dimasak lebih enak baunya dan ada gizinya (anggapan jaman itu). Membeli ayam termasuk langka dan setiap belanja ayam selalu dibagi 4, untuk kami ketiga anaknya dan papa, lalu Mama makan apa, Mama makan lauk seadanya. Tidak hanya masalah sakit dan ekonomi, papa yang memiliki sifat temperamen mudah sekali tersulut emosinya dan sering keluar tongkrongan dengan teman-temannya hingga larut bahkan pagi, kalau Mama sedikit protes karena kalau papa dirumah sebentar,mama pasti bisa lebih open (ngrumati) rumah dan keperluan kami yang sering kambuh pada malam hari, papa akan menyambutnya dengan marah-marah, dan apa yang dilakukan Mama hanya sabar, meski pernah merasa saat bangun tidur antara “hidup segan tapi matipun tak mau karena ada kami anak-anaknya”. Kamilah semangat hidup Mama.
Dari terpaan masalah demi masalah Mama tidak pernah sekalipun tersulut emosinya yang akhirnya menjadikan kami lampiasan kemarahannya dan hal itu tidak pernah terjadi sekalipun. Mama selalu menyayangi kami, setiap pulang sekolah dengan perut lapar karena memang tidak diberi uang saku, saya mengayuh sepeda sekuat tenaga untuk sampai kerumah karena yakin Mama pasti sudah memasakan makanan yang enak untuk kami, tak hanya itu Mama juga mendongengkan cerita sebelum tidur dan tanpa buku, hanya dengan imajinasi Mama karena untuk beli buku sudah tidak ada lagi uang yang tersisa dan ingatan itu masih melekat pada kami, selalu berlindung pada Mama kalau-kalau papa sedang marah, menyediakan pahanya untuk kami berbaring, membangunkan kami malam hari jika masuk masa-masa ujian dan membuatkan makanan (saat itu mie rebus dan telur jadi andalan agar kami bisa kembali terjaga) agar kami bisa belajar, dan saat kami sedikit sakit namun harus mengikuti tes Mama akan membacakan buku pelajaran kami dan kami akan tiduran di pahanya mendengarkan sebagai alternatif belajar.

Bertepatan dengan hari Ibu, Rumbel Literasi Media IIP Semarang lagi ngadain Gebyar Literasi Media IIP Semarang, nah rulesnya kita diminta untuk buat postingan tentang kisah ibu kita yang menginspirasi cara pola asuh kita ke anak-anak sekarang/ way of life kita sekarang, ini kisah Mama Mia mama ketce. Siapin tisu ya...alah gaya inih...
Beberapa hari ini lagi jadi ahli gizinya Mama, beberapa Minggu yang lalu Mama telpon kalau Kolesterolnya naik jadi 450 dengan TG/Trigliserida 650 padahal saya juga ga begitu paham tentang kolesterol dan sejenisnya, saya coba bertanya mah normalnya berapa? Mama menjawab untuk kolesterol total <200 dan TG <150, astagfirullah 4 kali lipat dari yang seharusnya saya kaget minta ampun kok tinggi sekali, padahal Mama juga punya sedikit masalah jantung yang detaknya kadang tidak beraturan apa lagi kalau lagi ada yang dipikirkan. Secara tidak sadar jari-jari ini mencari informasi dari dunia maya dengan tetap memperhatikan rujukan web-web yang valid, hampir nangis rasanya dapat kabar dari Mama sudut-sudut mata ini rasanya berkumpul air yang hampir tumpah dan jari-jari ini sedikit tidak bisa direm gerakannya, dalam hati bergumam ya Allah kuatkan Mama, karena saya tau Mama orang yang kuat.
Beda dulu beda sekarang, Mama yang sekarang ini apa-apa difikirkan dan bisa mendadak drop beda sekali dengan Mama waktu itu. Mendadak saya menerawang dan menelisik ingatan-ingatan jaman kecil Mama wanita yang kuat dan tangguh. Mama dikaruniai 4 orang anak 3 perempuan dan 1 laki-laki ragil. Anak pertama sampai ketiga selisih 2 tahun semua, hanya ke yang ragil selisih 6 tahun. Papa bekerja sebagai PNS dan Mama menjadi ibu rumah tangga, mungkin karena ini dari kecil cita-cita saya jadi ibu rumah tangga karena melihat keikhlasan Mama, kesabaran maa dan Mama yang kuat. Setelah menikah Mama dan papa hidup di perumahan RSS tipe 21 dengan beralaskan plester pada saat itu, papa perokok aktif yang intensitas merokok di dalam rumah bisa dikatakan sering dan qodarullah saya dan adik di usia bayi (3 bulan kata Mama) terkena asma dan bronchitis, hampir setiap malam kambuh, nafas naik turun hingga bunyi “ngik-ngik” dan keringat dingin keluar yang mengharuskan Mama terjaga untuk mengganti pakaian kami yang terkadang habis stocknya hingga hanya menggunakan kaos singlet tanpa celana (karena habis dan kondisi ekonomi tidak memungkinkan menggunakan diapers) hanya ditutup kain. Ekonomi PNS jaman itu tidak seperti sekarang, jaman dulu wanita lebih memilih pedagang atau supir dibanding PNS karena kecilnya gaji saat itu, beda dengan sekarang PNS jadi rebutan, setiap gajian hanya cukup untuk membeli susu untuk saya dan adik agar tidak kekurangan gizi karena susahnya makan, dan saat itu susu formula masih dianggap baik. Untuk makan Mama saat itu seadanya, kadang Mama harus meminta ijin pada pedagangnya untuk minta gajih-gajih yang menempel di daging ayam yang ada di warung (jadi ga beli ayamnya hanya minta gajih-gajihnya saja, padahal sekarang dibuang-buang kaya gituan) agar sop yang dimasak lebih enak baunya dan ada gizinya (anggapan jaman itu). Membeli ayam termasuk langka dan setiap belanja ayam selalu dibagi 4, untuk kami ketiga anaknya dan papa, lalu Mama makan apa, Mama makan lauk seadanya. Tidak hanya masalah sakit dan ekonomi, papa yang memiliki sifat temperamen mudah sekali tersulut emosinya dan sering keluar tongkrongan dengan teman-temannya hingga larut bahkan pagi, kalau Mama sedikit protes karena kalau papa dirumah sebentar,mama pasti bisa lebih open (ngrumati) rumah dan keperluan kami yang sering kambuh pada malam hari, papa akan menyambutnya dengan marah-marah, dan apa yang dilakukan Mama hanya sabar, meski pernah merasa saat bangun tidur antara “hidup segan tapi matipun tak mau karena ada kami anak-anaknya”. Kamilah semangat hidup Mama.
Dari terpaan masalah demi masalah Mama tidak pernah sekalipun tersulut emosinya yang akhirnya menjadikan kami lampiasan kemarahannya dan hal itu tidak pernah terjadi sekalipun. Mama selalu menyayangi kami, setiap pulang sekolah dengan perut lapar karena memang tidak diberi uang saku, saya mengayuh sepeda sekuat tenaga untuk sampai kerumah karena yakin Mama pasti sudah memasakan makanan yang enak untuk kami, tak hanya itu Mama juga mendongengkan cerita sebelum tidur dan tanpa buku, hanya dengan imajinasi Mama karena untuk beli buku sudah tidak ada lagi uang yang tersisa dan ingatan itu masih melekat pada kami, selalu berlindung pada Mama kalau-kalau papa sedang marah, menyediakan pahanya untuk kami berbaring, membangunkan kami malam hari jika masuk masa-masa ujian dan membuatkan makanan (saat itu mie rebus dan telur jadi andalan agar kami bisa kembali terjaga) agar kami bisa belajar, dan saat kami sedikit sakit namun harus mengikuti tes Mama akan membacakan buku pelajaran kami dan kami akan tiduran di pahanya mendengarkan sebagai alternatif belajar.
Menjadi wanita yang kuat, selalu memberikan makanan terbaik untuk keluarga, sabar dan mengasihi anak-anaknya itu yang saya pelajari hingga sekarang dan sekarang saya tau hal itu tidak mudah, saya masih sering tersulut emosi, masih suka baperan juga karenanya saya selalu kagum pada beliau yang sekarang sudah banyak keriput diwajahnya, binar matanya yang mulai redup dan berwarna keruh terbawa usia. Tapi diusia senjanya dia tetap memiliki semangat untuk menyayangi kami, menjaga kami anak-anaknya, dan memberikan kasih sayang yang spesial untuk cucu-cucunya. Tak sekalipun Mama menggurui kami disaat kami belajar menjadi ibu meski sudah 4 kali melahirkan dan mengasuh anak-anak tapi Mama selalu menghargai dan percaya apapun keputusan kami untuk memberikan yang terbaik untuk anak-anak kami. Dan yang terhebat mama mau berubah menjadi anak usia 3/4/5/6/7/8 tahun untuk bermain, bernyanyi, loncat-loncat dan menari-nari dengan cucu-cucunya. Dan saat ini hanya bisa bersyukur pernah lahir dari rahim seorang Mama ini, semoga tidak lagi menyakitimu hatimu Ma.
Selamat Hari Ibu Untuk Mama yang tangguh dan luar biasa, yang selalu mengajarkanku untuk menjadi Mama yang luar biasa untuk cucu-cucunya.
Terimakasih Rumbel Literasi Media http://iipsemarang.blogspot.co.id/?m=1 , setiap hari menjadi semakin semangat belajar untuk menjadi ibu yang terbaik.
#RumbelLiterasiMedia #IIPSemarang #HariIbu2017 #IbukuInspirasiku #MiladIIP
Setiap ibu selalu menjadi inspirasi untuk anak-anaknya yaaa :)
BalasHapusIya mba Alhamdulillah punya Ibu yang bisa menginspirasi 😘..
HapusTrimakasih sudah berkunjung 😊