Hai mama ketce…
Weekend kemarin alhamdulillah papa ga ada jadwal lembur kantor, yeeaayy…senangnya hatiku (maklumlah full mom yang susah keluarnya, sekali keluar langsung berbunga bunga 😂😂). Makanya gegara itu malamnya selalu tepar, rasanya badan cape semua. Tapi woles mam, tantangan melejitkan kecerdasan pastilah dilaksanakan, meskipun telat setornya….
Acara weekend ini rencananya mau ngajakin kakak Aiko nengokin tetangga yang punya baby baru plus tetangga baru juga karena baru pindah semingguan ini. Tapi sebelumnya Mama mengajak kakak Aiko untuk bungkus barang yang akan menjadi buah tangan kami saat berkunjung, hal ini sengaja Mama lakukan karena Mama tahu ada banyak manfaat dari hal ini, yaitu melatih ketrampilan, mengembangkan kreativitasnya, mengasah motoriknya, dan juga anak mau berusaha dan mencoba hal baru. Selain itu hal yang paling penting dari hal ini adalah Mama jadi bisa banyak formasi yang bisa disampaikan ke kakak Aiko tentang adanya kehidupan baru, mengenalkan empati mengapa harus mengunjungi orang yang habis melahirkan, dan mengapa harus berbagi dengan membawa buah tangan Anda saat berkunjung.
Kakak : “ Mah, nengokin adek bayinya dimana sih Ma?
Mama : “ Itu di sebelahnya bu Eka (tetangga kami) sama temennya mama tante Titis yang dulu kakak pernah kesana, tau kan?”
Kakak : “Enggak tau mah, kan dulu Aiko masih kecil jadi lupa”
Mama : “Oh ya Kak, kakak tau engga adek bayi nanti yang mau ditengokin, siapa ya kak yang menciptakan?”
Kakak : “Allah lah Mah, kan adek bayi tadinya diperut kaya adek Al dulu terus lahiran ya ma?” jawab kakak Aiko, “Ini kado mau buat adek bayi ya Ma?”
Mama : “Iya sayang mau buat adek bayi”
Kakak : “Memangnya adek bayinya ulang tahun ya Ma, kok dikasih kado?” kakak Aiko selalu beranggapan kalo kado itu untuk orang yang ulang tahun
Mama : “ Adek bayinya kan baru lahir nduk, nah kado ini buat adek bayi yang baru lahir kan mesti adek bayinya baru punya barang sedikit, nah kakak Aiko kasih ini ke adek bayinya berarti kakak sayang dan baik sama adek bayinya ”.
Mama memang sedang mengajarkan bagaimana berbagi dengan orang lain, mulai dari berkunjung seperti ini atau berbagi ke tetangga terdekat jika memiliki makanan yang bisa dibagikan.
Selain itu untuk mengajak kakak Aiko berkunjung ke rumah orang harus melakukan beberapa sounding. Karena mulai usia 3 tahun kalau tidak salah ingat, kakak Aiko mulai menyadari apa-apa saja yang menjadi keinginananya, termasuk tidak mau berjabat tangan saat bertamu dan hanya dengan orang-orang tertentu saja doi mau berjabat tangan biasanya hanya dengan orang yang sudah dianggap dekat dan juga orang itu tidak suka meledek doi atau kakak Aiko tidak pernah merasa terintervensi. Bahkan menjawab pertanyaan lawan bicarapun tergantung doi suka atau tidak suka dengan orangnya. Mama Mia memang tidak pernah memaksakan untuk kakak Aiko berjabat tangan ataupun menjawab, melihat usianya masih belum nalar dan jika dipaksakan kakak akan merasa semakin terintervensi dan tidak nyaman, mama biasanya hanya membantu menjawab “Maaf kakak Aikonya belum mau diajak salim, nanti kalo udah mau biar kakak yang ngajakin salim atau bicara”. dan sesampainya dirumah atau saat perjalanan pulang basanya mama tanya ke kakak Aiko kenapa tidak mau salim atau menjawab pertanyaan dan biasanya jawabannya adalah “malu atau enggak mau karena si ini nakal sama Aiko (suka usil)”, dan palingan mama hanya bilang “oh gitu, ya tapi kalau sudah tambah besar harusnya sudah berani ya karena kalau gitu terus nanti ga sopan sayang”.
Sebelum berkunjung juga mama sudah sounding ke kakak Aiko, kalau kakak Aiko sudah semakin besar lo, kan sudah mau 4 tahun sebentar lagi. dan biasanya si kakak akan menjawab “Iya kan aiko sudah besar, kalau dulu pas masih kecil ga mau salim kalau dikasih juga diem kalau sekarang kan sudah besar ya Ma?” meskipun demikian pelaksanaannya terkadang masih angot-angotan tergantung moodnya kakak, doi kadang masih malu-malu mau kaya Mamanya atau kalau ngepasin pengen nunjukin ke Mamanya kalau doi udah besar biasanya langsung oke banget, trus sampai rumah pasti doi akan bilang “Aiko kan udah besar Ma jadi mau …………. kalau dulu Aiko belum mau soalnya masih kecil, ya kan?”.
Selain itu beberapa hari ini mama sedang mengajari kakak Aiko untuk berterimakasih saat menolak jika ada yang menwarkan sesuatu. Di kompels yang mama tempati semakin ramai penghuninya, ada 3 rumah yang baru saja ditempati dan sebentar lagi akan bertambah satu lagi. Beberapa tetangga terkadang suka menawarkan membelikan jajanan saat cucu atau anaknya membeli jajan/ barang saat ada pedagang yang lewat atau menawarkan makanan saat kami sedang berada diluar rumah atau berada disekitaran rumah mereka, dan memang kakak Aiko tidak dibiasakan untuk membeli setiap ada pedagang yang menjajajakan makanan atau mainan, saya dan papanya membiasakan membili jika stock cemilan kakak Aiko di rumah habis dan membiasakan membeli dengan orang tuanya, meskipun kakak Aiko sudah tahu makanan apa yang dibolehkan dan tidak dibolehkan. Selain itu Mama juga sedang mengajarkan boleh dan tidak boleh menerima pemberian dari orang lain berdasarkan kenal atau tidak kenal terhadap orang itu, dan bagaimana menolak tawaran yang diberikan oleh tetangga atau orang lain dengan baik. Karena biasanya saat ada yang menawarkan sesuatu saat kakak Aiko mau doi sudah tahu kalau harus bilang terimakasih jika memang mau terhadap barang/ makanan yang ditawarkan, namun saat tidak mau biasanya hanya menengokan wajahnya (bahasa jawanya mukanya langsung mlengos) atau malahan ngumpet atau sekedar bergelendot di badan Mamanya. Souding Mama ke kakak Aiko jika ada orang yang menawarkan sesuatu dan kakak Aiko tidak mau kakak bisa bilang ke orangnya gini “Terimakasih, tapi aiko ga mau”. Oke ada beberapa point yang sedang mama latih saat kakak berhadapan/ berkunjung ke orang lain:
- Mau berjabat tangan dengan orang lain
- Menjawab jika ada yang bertanya
- Berterimakasih saat mau dan tidak mau ditawari sesuatu oleh orang lain
Setelah menyelesaikan bukus kadonya, Mama, Papa, Kakak Aiko dan adek Althar menuju ke tetangga yang jarak rumahnya tidak jauh dari rumah. Setelah mengucapkan salam dan dipersilahkan masuk kami masuk ke rumah dan melihat bayi mungil, si kakak pastinya mengekor Mama keamapun mama duduk, saat tuan rumah mengajak berjabat tangan si kakak menjabat tangannya meskipun saat ditanya masih banyak ngangguk dan geleng-gelengnya, dan saat tuan rumah menawarkan biskuit sachet si kakak terlihat mau tapi malu, dan mama akhirnya bertanya ulang ke kakak, “kakak mau atau enggak, kalau mau boleh ambil kalau ga mau matur sama Om-nya terimakasih kakak ga mau”, si kakak ngangguk pertanda mau, “ya kalau mau sana to ambil sama bilang apa ya?”. Si kakak ambil biskuitnya dan mengucapkan terima kasih, dan tuan rumah memberikan beberapa untuk dibawa pulang, si kakak menggeleng dan berkata “udah ga mau ini aja, trimakasih”. Saat sedikit memaksa supaya kakak bawa banyak akhirnya mama yang menjelaskan “Terimakasih Om, Aiko maunya 2 saja, satu buat kakak dan satu buat adek”. Saat hendak pulang kakak Aikopun mau berjabat tangan kembali dengan tuan rumah.
Bersyukur semuanya berjalan baik, namun memang hal ini perlu dilatih berulang-ulang agar memunculkan kebiasaan yang baik, dan mengajarkan kakak Aiko Allah lah yang maha menciptakan semuanya, mengajarkan berbagi, adab bertamu yang baik, dan pastinya hal ini tidak mudah karena sebagai orang tua sebagai role model anak kami perlu mawas diri dan memberikan contoh yang baik, sabar dalam membiasakan hal yang baru dan tidak memaksa atau menekan anak yang akhirnya dapat membuat anak merasa tidak nyaman.
![]() |
| Kado (Buah Tangan) - Melatih Kecerdasan |
#Hari_ke_3
#Tantangan_10_Hari
#Kelas_BunSay_IIP3
#Familly_Project
#Game_Level_3
#Kami_Bisa
#Tantangan_10_Hari
#Kelas_BunSay_IIP3
#Familly_Project
#Game_Level_3
#Kami_Bisa


Tidak ada komentar:
Posting Komentar