Haloo mam ketcekuh…..
Masih edisi weekend jadi setor tugaspun masih dalam edisi telat setor. Weekend ini rencananya mau kepasar karena ingin lebih mengenalkan pasar dari beberapa sisi kepada kakak Aiko dan belanja bahan makanan keluarga untuk stock mingguan, karena kalau tidak ada stock mama yang kliyengan saat mempersiapkan menu MPASI adek Al, karena harus menyiapkan protein hewani untuk persekali masak dan melalui tahap frozen untuk memudahkan mengolahnya.
Belanja di pasar memang salah satu rutinitas, dan biasanya dilakukan 2 minggu sekali oleh kami, pastinya kakak Aiko selalu ikut dalam aktivitas ini. Disetiap belanja tidak pernah sekalipun kakak Aiko merengek minta pulang karena gerah mapun kondisi pasar yang pastilah berbau menyengat dan sedikit kotor apalagi jika malamnya hujan turun pastilah semakin menambah kotornya pasar karena becek dan banyak kubangan air, mungkin karena sudah terbiasa ikut sejak usianya 18bulan sampai hapal apa saja yang akan dibeli di pasar. Namun kali ini lebih banyak misinya karena seringnya mama bermain jual-beli dengan kakak Aiko, jadi mama berinisiatif ingin lebih mengenalkan pasar dari bermacam-macam sisi mulai dari pemenuhan kebutuhan, dari mana asal buah, sayur, ikan dll, melihat dan berani melakukan transaksi jual beli meski masih dalam pendampingan Mama.
Tapi sepertinya belum diijinkan untuk belajar ke Pasar, akhirnya mama mencoba hal yang lain. Kebetulan tetangga kami yang baru rasa lama, karena sebenarnya beliau sudah satu tahun ini diperumahan kami, namun di blok yang berbeda dan baru 2 minggu ini menempati rumah yang hanya selisih satu rumah dari rumah kami. Beliau memiliki cucu yang agak berbeda dengan teman sebayanya, menurut pendapat saya pribadi anak ini memiliki gangguan perilaku meski sampai sekarang belum berani menyimpulkan gangguan apa yang dimiliki. Sebenarnya ia tidak menetap tinggal disini hanya saja sering singgah ke rumah neneknya yang menjadi tetangga baru kami. Kakak Aiko cukup takut terhadap anak ini sebut saja “DF”, kakak Aiko akan memilih masuk rumah dan selalu minta pintu dikunci jika suara DF terdengar dan bermain di depan rumah karena sempat sepeda kakak Aiko yang ada di rumah diambil dan dipakai tanpa ijin padahal si kakak ngeluarin sepeda mau dipakai. Kakak Aiko selalu merasa tidak nyaman jika bersinggungan dengan hal yang tidak terbiasa ia lakukan atau ia lihat, DF ini memang memiliki kesulitan dalam berkomunikasi, diusianya yang sepertinya lebih dari 5 tahun belum ada satu patah katapun yang ia katakan, meskipun DF paham dengan apa yang orang lain katakan, ia sering berteriak-teriak, bermain dengan barang orang lain dan tidak pernah meminta ijin pemiliknya, masuk dan keluar rumah orang dengan seenaknya dan berlari-lari didalamnya atau mengambil apa yang dia inginkan, terakhir ini DF sedang suka bermain air, seolah-olah sedang mencuci mobil dan sudah ada dua mobil tetangga yang sempat disiram air. Padahal kebiasaan yang kami tanamkan dari kecil pada kakak Aiko bagaimana meminjam yang baik, bertamu yang baik dan memperlakukan orang dengan baik, adanya perbedaan yang sangat signifikan membuat kakak Aiko tidak nyaman, tapi mama harap bukan berarti menjadikan kakak Aiko takut bermain.
Diusia kakak Aiko yang sebentar lagi 4 tahun pastilah belum bisa dengan mudah melihat dan menerima perbedaan ini sebagai salah satu hal yang wajar, apalagi DF ini memang tergolong agresif. Mamapun tidak memaksakan kakak Aiko untuk menerima perbedaan ini menjadi hal yang wajar karena memang kakak Aiko tetap harus berhati-hati karena sikap agresif DF ini, yang terkadang menyiram saudaranya sendiri yang berusia 3th berulang-ulang dengan air dingin meskipun sudah menangis dan sudah diminta menghentikan oleh kami yang melihatnya.
Mama sering menjelaskan kepada kakak Aiko kalo kakak memang harus berhati-hati tapi tidak perlu takut, karena mas DF sebenarnya anak baik hanya saja belum tahu karena mungkin belum dikasih tahu seperti kakak Aiko. Selama kakak sama mama atau papa, kakak ga perlu takut dan kalau kakak matur sama mas DF pelan saja kalau sambil teriak-teriak nanti mas DFnya taunya kakak lagi marah-marah, nanti mas Df ikut teriak juga (mamanya sendiri merasa harus berhati-hati dan belum bisa membiarkan Aiko bermain tanpa adanya pengawasan mama/papa karena sikap DF yang tergolong agresif).
Karena hujan kami bermain di teras rumah, bermain gelembung-gelembung sabun disaat yang sama DF berada diluar rumah sedang bermain sepeda milik anak lain. Teras sengaja saya sapu dan pel karena adek Al yang belum bisa berjalan lancar jadi masih sering merangkak, meskipun jalanan depan kami basah karena tersiram hujan. DF yang sedang bermain sepeda sepertinya ingin menaikan sepedanya ke teras kami, dengan halus dan sedikit bahasa isyarat saya menjelaskan bahwa sepedanya kotor dan teras ini sedang digunakan untuk merangkak adek Al kalau sepedanya naik nanti terasnya jadi ikut kotor, DF hanya senyum dan memaksa menaikan sepedanya ke teras, Aiko mendekat dan dengan bahasa anak-anaknya melarang DF menaikan sepedanya “Jangan kesini, kotor, sana main di sana saja (menunjuk jalan)” sambil menghentakan kakinya ke sepeda DF, yang membuat DF sedikit marah dan memaksakan sepedanya naik lebih keras. Tangan satu memegang sepeda Mama berkomunikasi kepada kakak AIko kalau ngomong ke mas DF harus pelan dan kalau kakinya kakak menghentak kesepeda seperti tadi juga ga baik, kan ga sopan juga, dan untuk keberapa kalinya mama memberi pengertian kepada DF dengan cara yang mudah dipahami DF, akhirnya sepeda diturunkan ke jalan dan kembali diayuh. Mamapun menjelaskan ke kakak Aiko kalau harus berani tapi hati-hati juga kepada mas DF, dan jangan teriak-teriak saat mengajak bicara mas DF. Mama menjelaskan bahwa mas DF baik dan hanya mau bermain, hanya saja terkadang belum tahu atau sudah tahu tapi harus diingatkan karena lupa dan kakak boleh mengingatkan dengan bahasa yang baik juga.
![]() |
| Perbedaan - Melatih Kecerdasan |
Semoga kakak Aiko bisa menerima adanya perbedaan dan semakin bisa belajar dan memilah apa yang baik dan kurang baik bahkan tidak baik dari pengalaman dan perilaku orang lain. Sore ini mama ada acara arisan ibu-ibu perumahan, meski awalnya kakak Aiko belum mau berjabat tangan (salim) karena efek bangun tidur, lap muka langsung ikut membuat mood belum stabil, namun saat pulangnya Alhamdulillah sudah mau salim dan berpamitan dengan ibu-ibu. Sama-sama belajar ya nduk, semoga bisa memberikan pengetahuan dan pengalaman yang baru.
#Hari_ke_4
#Tantangan_10_Hari
#Kelas_BunSay_IIP3
#Familly_Project
#Game_Level_3
#Kami_Bisa
#Tantangan_10_Hari
#Kelas_BunSay_IIP3
#Familly_Project
#Game_Level_3
#Kami_Bisa


Tidak ada komentar:
Posting Komentar