Halaman

Kamis, 31 Mei 2018

Tantangan ke-7 Day ke-1 (Bermain Jual-Beli)

Bismillahirrahmanirrahim….

Akhirnya bisa pecah telor juga untuk setor tugas pertama, meski baru setor di hari ke-14 tapi tetep ganbate lah ya (semoga).  Meski sebenernya malu juga rasanya baru bisa menghimpun semangat untuk menulis lagi, konsistensi dipertanyakan. Berawal dari efek libur panjang dan hampir tidak pernah melakukan kegiatan tulis menulis, jadi mendongkrak semangat menulisnya lumayan beraaddd, meski ga seberat rindunya Dilan ke Milea hihihi. Selain itu juga ada beberapa kendala yang saya rasakan untuk menghimpun semangat menulis di tantangan ke-7 ini.
Awal kesulitan menulis karena jari-jari tangan bengkak dan pecah akibat dermatitis atopik atau eksim yang BBMsedang kambuh, ditambah lagi masuk bulan Ramadan membuat saya kesulitan mengatur waktu, ritme yang berubah dan kondisi tangan yang menantang membuat beberapa tugas negara bergeser-geser waktunya dan hal yang lain terbengkalai. Kendala lainnya  karena terbiasa tugas di Game sebelumnya lebih mengandalkan laptop dibandingkan dengan gawai, entah mengapa rasanya menulis menggunakan gawai membuat ide lebih sulit keluar dan mengalir, rasa-rasanya karena terbatas lebar media yang digunakan (aneh sebenarnya, tapi memang perasaan seperti ini sungguh hadir). Next kendala karena kemarin saat booming cerbung elena membuat semangat membaca cerbung yang sudah beku menjadi mencair dan berubah menjadi berapi semangatnya, itulah penyebabnya saat bisa berdekatan dengan gawai bukannya mulai menulis tapi malah mencari cerbung-cerbung lain yang menyajikan cerita seru hehe. Maafkan. Nah kendala selanjutnya karena faktor alam, uppss. Rumah orang tua di Pekalongan terkena rob dan kali ini banjir atau rob terbesar selama 28th kami tinggal disana, didepan rumah tinggi air hingga paha atas orang dewasa, dan ketinggian air di dalam rumah hingga 25cm, padahal rumah orang tua termasuk rumah yang tinggi karena ketinggiannya selisih hingga 20cm dari jalan. Dan keluarga kami kedatangan tamu dipuasa ini, eh lebih tepatnya Mama dan adik mengungsi dirumah kami. Kesempatan langka ini akhirnya membuat segala kegiatan lebih tertatih karena waktu yang ada lebih sering dihabiskan untuk mengobrol.

Tantangan ke-7 ini mengenai “Setiap Anak Adalah Bintang”. Deg. Ah baru membaca judulnya saja rasanya ada yang memecut hati jni. Ada rasa bersalah yang merambat pelan namun pasti. Awal melihat judul saja langsung memilih mengurungkan membaca materi selanjutnya, karena terkadang tanpa disadari prosesi membandingkan meluncur begitu saja dari mulut ini. “Nih kak, adek maemnya pinter” diwaktu makan dan disaat keduanya minta disuapi.

Diusia 4tahun, sama halnya dengan teman sebayanya yang membuat si kakak berbinar adalah saat bermain. Kalau pengamatan selama ini aktifitas yang disukai kakak ada beberapa. Kakak suka menari ataupun menyanyi, menyanyi lagu yang dia buat sendiri (kalimat dan kata-kata asal yang terkadang ga nyambung dan terkadang dengan kata-kata atau kalimat yang tidak memiliki arti hihihi) ataupun yang sudah dihapalnya, kegemarannya menyanyi dan menari ini sudah terlihat saat usianya kurang dari 1tahun. Bermain jual-jualan, apapun bisa menjadi barang jualannya. Bermain peran, bermain peran ini mulai disukai disaat usianya 2,5 tahun, peran princess, guru, orang tua dan anak-anaknya, atau apa yang ia lihat di kehidupan nyata atau film anak di televisi (si kakak memang punya jatah nonton 3 tayangan TV per hari, meskipun sekarang ini cenderung jarang menonton TV). Melakukan aktifitas rumah tangga, seperti menjemur, melipat, menata ruangan, memotong sayur atau bahan lainnya. Mungkin karena emaknya murni IRT jadi ada proses duplikasi. Selain semuanya si kakak juga berbinar saat bermain diluar rumah.


Barang-barang belanjaan dari supermarket semalam belum ditata, karena sampai rumah si adik yang sudah tidur saat perjalanan pulang kebangun saat mau ditidurkan, mau ga mau ngaASI lagi agar bisa kembali tidur, eh ternyata ga hanya adek yang tidur si emakpun ikut ketiduran hihihi. Esoknya kakak Aiko langsung mengambil dan menumpahkan semua isi yang ada dalam kresek kemudian menata barang-barang belanjaan seolah-olah menjadi barang jualannya. “Mamah yang beli ya?” ucapnya, karena kakak seringnya lebih suka bermain dengan orang lain dibanding sendirian. Mama mengangguk, mumpung kerjaan rumah juga sudah selesai.

“Beli apa Bu?” Tanya kakak seolah-olah menjadi penjual

“Beli mie rasa semur 1, rasa sup 1 dan susu fullkrim 2, susu rasa stroberi 1”  mama sengaja sekali pesan dan menyebutkan angka berbeda, meski proses bermain namun si kakak bisa berlatih matematika logis dan sekalian mengasah daya ingatnya.

‘Ini aja?” Tanya kakak lagi sebagai penjual.

“Iya Bu itu saja” jawabku, “semuanya jadi berapa bu?”

“Semuanya jadi dua ribu ratus bu” kata kakak menyebutkan total nominal belanja. Si kakak memang belum tahu nominal uang, mana yang lebih besar dan bagaimana cara menyebutnya.

“Ini Bu” jawabku sambil pura-pura membayar.

“Kreseknya mau didobel?” kata kakak dan Mama hanya mengangguk. “Mau dicantolin disetang motor kan, biar ga jatuh jadi didobel aja”. setiap belanja barang yang sekiranya berat, Mama memang selalu minta didobel karena mau dicantolin disetang motor karena takut putus tali kreseknya saat dibawa, maklumlah kendala motor kolpingan jadi gayanya terbatas. Dan ternyata si kakak memperhatikan dan menduplikat ketika sedang bermain.

Kalau sudah habis barangnya, permainan ini akan dimulai lagi dari awal.

“Bu beli Bu” sengaja menggodanya saat kakak menata barang belanjaan menyerupai penjual.

“Belum Bu, ini baru kulakan beli-beli barang belum ditata” kata kakak menjawab.

“Ah ibunya lama, saya mau beli mie aja Bu” kataku seolah-olah menjadi pembeli yang memaksa.

“iya Bu, mau beli apa?” tanya kakak sebagai penjual.

“Beli mi rasa semur saja Bu satu” jawabku

“Engga beli susu Bu” si kakak berharap Mama borong belanjaan

“Enggak Bu mie aja” Mama sengaja belanja satu barang, biasanya bikin si kakak sebel.

“Kan anaknya mau minum susu, ini susu untuk 2 tahun” (susu untuk anak usia 2 tahun) waahhh masih ingat ternyata.

“Engga Bu, enggak punya rejeki jadi beli mie saja buat makan” jawabku tetep kekeh.

“Oh ini saya kasih saja buat anaknya” sambil memberikan susu UHT rasa stroberi ke adek Al

“Wah ibunya baik, ini gratis saja mienya ya Bu?” tanyaku.

“Oh iya” kata kakak sumringah.

Inilah kakak, kegiatan menjadi penjual dan pembeli biasanya bergantian antara kakak dan Mama menjadi peran penjual dan pembeli. Dan permainan seperti ini awet alias bisa tidak berhenti-berhenti.
Meski terkesan hanya bermain jual-beli tapi banyak pembelajaran yang bisa diambil disana, dari bermain peran, matematika logis, mengenalkan berbagai dan care terhadap orang, dan membeli suatu barang tidak boleh memaksa, tergantung apa yang diberikan Allah kepada kita.


#semuaanakadalahbintang
#institutibuprofesional
#kelasbundasayang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar