Beberapa hari ini di rumah sedang ada tukang yang sedang memperbaiki plafon rumah yang terkena rayap. Mendengar Eternit yang dibongkar berjatuhan membuat adek Al takut apalagi saat tanah rayap berjatuhan adek Al minta digendong, membuat Mama harus menggendong adek Al selama beraktifitas. Hal itu membuat tenaga Mama lumayan terkuras. Semakin lama adek semakin takut karena suara eternit jatuh semakin banyak, membuat adek Al tidak mau masuk rumah. Saat makan siang duduk ditungguin agar makan pun tidak mau, maunya gendong dan membuat Mama sulit untuk menyuapinya kakak yang minta disuapin. Mau makan diluar kasihan juga karena cuacanya panas. Daripada tidak mau makan Mama mengajak mereka ke tetangga, ya solusinya ikut makan ditempat tetangga daripada kakak dan adek ga makan. Tadinya pengen keluar kemana gitu tapi sayangnya lagi ga ada motor dirumah, akhirnya nunut tempat makan di tetangga adalah solusinya.
Selesai makan Mama mengajak kakak dana dek pulang, tapi hanya berhasil sampai depan karena adek ga mau masuk rumah. Akhirnya kembali lagi main ke rumah tetangga sampai semua tukang pulang dan tidak ada aktifitas pekerjaan. Ternyata adek masih sama tidak mau turun, hanya mau digendong. Ketiga kalinya kembali lagi ketetangga, dan menunggu sampai papa pulang kerja agar ada yang mengajak adek Al karena Mama mau beberes tempat agar tidak terlalu kotor.
Pekerjaan tukang belum selesai, pastinya esok hari kondisi ini masih berlanjut. Hanya saja Mama juga ga enakan kalau harus merepotkan tetangga lagi. Akhirnya Mama sama papa membersihkan ruang belakang untuk dijadikan kamar darurat saat siang hari, karena ruang depan dan belakang memiliki pintu penghubung sehingga saat ditutup suara pekerjaan tukang sedikit tidak terdengar.
Ternyata dugaan Mama meleset, meski suaranya tidak terlampau keras si adek tetap saja tidak mau kalau didudukan sendiri. Qodarullah kakak pagi harinya saat bermain sepedaan diluar jatuh masuk selokan dan kepalanya terbentur pinggiran hingga membuat sobekan di kepala bagian belakang. Tipe kakak yang kalau luka kecil pun menangis, dan sekarang ada sobekan di belakang kepala yang mengeluarkan darah cukup banyak sampai menetes di lantai saat digendong membuat kakak menangis histeris, dan Mama? Mama lemas saudara-saudara, darah yang keluar menetes terus membasahi leher dan punggung membuat Mama memperkirakan sobekannya panjang atau dalam.
Adek yang juga minta dengan mama, mungkin karena takut melihat kakak menangis histeris. Bersyukur tetangga membantu menjaga adek Al. Namun saat semua sudah pulang adek kembali minta digendong padahal si kakak juga minta diperhatikan karena baru saja jatuh dan membuat luka.
Keduanya meminta perhatian yang sama. Mama jadi teringat pernah membuat mainan untuk kakak, ya sudah pernah membuat busy book. Mama mengeluarkan busy book yang tersimpan. Alhamdulillah beberapa mainan yang dibuat masih baik dan tertata jadi bisa”dilungsurkan” ke adek si adek kamu bermain, meski sesekali juga meminta digendong tetapi mau didudukan atau diajak aktivitas yang lainnya.
Inilah seorang ibu yang harus menguatkan disaat sisi terdalamnya sakit. Memberikan senyuman terbaiknya meski dengan hati yang hancur. Memberikan suara merdunya meski otak dan tubuh tidak sejalan.
💡💡🍁🍁⭐⭐🍁🍁🌱🌱🌱🌱🍁🍁⭐⭐🍁🍁💡💡


Tidak ada komentar:
Posting Komentar