Assalamualaikum…
Hari ini masuk ke day 2…nah ini pula yang membuat saya merelakan mereview day 1. Gimana lagi dunk, ga kaya ibu2 seterong lainnya yang bisa ini itu cap cuzzz. Entah kenapa juga beberapa malam lalu si adek mintanya nenen dan nemplok aja semalaman tiap dilepas kebangun lagi kebangun lagi padahal udah 20 bulan. Baru kemarin Alhamdulillah normal lagi acara malamnya, emak bisa menyetrika dan tengok2 WAG ππ. Tiap hari pun chat terus menggunung, semakin besar tantangan me-review ππ.
Day 2 (21 September 2018) merupakan tugas kelompok kami, yang terdiri dari 6 personil.
- Annisa
- Endriani
- Mia Hapsari
- Puji Hidayati
- Septiana Danies
- Vanny Martianova
Materi kami share pukul 13.00 WIB dan diberikan waktu bertanya hingga jam 17.00 WIB, sehingga teman-teman bisa membaca materi terlebih dahulu dan bisa bertanya sebelum diskusi dimulai. Presentasi sendiri akan berlangsung selama 1jam dimulai pukul 19.00WIB dengan terlebih dahulu mengeshare ulang materi dan camilan.
Materi yang kami angkat mengenai penyimpangan fitrah seksualitas yang tidak tuntas dibangkitkan dan kami memilih “Kurang Menikmati Peran Menjadi Ibu”. Berikut slide yang kami buat.
Ada 4 pertanyaan yang masuk dari teman-teman, berikut pertanyaan dan jawaban yang bisa kami berikan :
Pertanyaan pertama datang dari Mba Nurul - Pekalongan
[21/9 7.12 PM] +62 858-6655-6017:
1. Nurul - Pekalongan
Assalamu'alaikum
Mbak mau tanaya ya,
1. Kesalahan pendidikan fitrah seksualitas yang bagaimana yang membuat seorang perempuan akan bersikap tidak baik ketika menjadi seorang ibu?
2. Apakah ibu yang mudah emosi karena lelah dan padatnya jobdescription sebagai ibu, tidak punya ketahanan emosi yang baik itu juga disebabkan salah atau terlambatnya pendidikan fitrah seksualitas diterapkan?
Maturnuwun
Dijawab oleh Mba Septiana Danies
[21/9 7.17 PM] +62 856-4274-1455:
1. Sesuai dengan tahapan pendidikan fitrah sexual pada usia 7-10 tahun anak didekatkan dengan orangtua sesuai dengan gendernya, agar mampu mengembangkan potensi sesuai dengan sexualitasnya. Maka pada usia ini dekatkan anak perempuan dengan ibunya agar peran keibuan dan kewanitaannya bangkit. Dalam hal ini ibu mampu menjadi teladan dalam bersikap bagi anak2nya terutama anak perempuannya.
Sehingga ketika pada tahap ini peran ibu tidak melekat dengan baik dalam diri anak perempuannya maka bisa dimungkinkan anak perempuan yang sudah beranjak dewasa dan kini sudah mempunyai anak dia akan mencopas apa pola asuh yang dulu dia terima dari ortu terutama ibunya.
2. Banyak faktor yang menyebabkan, salah satu dimungkinkan karena ada tahap pendidikan fitrah sexualitas yang belum tuntas. Ibu yang mudah lelah dan padatnya jobdesk sebagai seorang ibu sehingga tidak mempunyai ketahanan emosi yang baik salah satu "obat mujarab" nya adalah dukungan seorang suami.
Jadi ketika beban ibu sudah berat namun suami sangat perhatian dengan istri, mau mendengarkan keluh kesah, mampu berempati dan mau berbagi tugas maka beban itu Insya Allah akan berkurang...sehingga emosi ibu akan lebih stabil
Maka pada tahap usia 10-14 tahun mengapa anak perlu didekatkan dengan lintas gendernya, supaya anak perempuan belajar dari figur ayahnya bagaimana lelaki yang baik sebagai suami maupun ayah..sehingga dia nanti mendapatkan suami dan ayah bagi anaknya yg juga mempunyai figur ayah yang baik
Maturnuwun
Ditambah jawaban dari Mba Vanny Martianova
[21/9 7.20 PM] +62 813-2557-3290: sepakat... peran dan dukungan suami serta lingkungan yang sehat akan mendukung seorang perempuan untuk menjadi ibu secara kaffah. tdk lupa bahwa pentingnya ilmu sbg istri dan ilmu ini jg wajib dimiliki seorang wanita. sehingga insya Allah dia akan bisa menjadi ibu yg baik
Pertanyaan kedua dari Mba Desty
[21/9 7.21 PM] +62 858-6655-6017: 2. Mba Desti
Assalamualaikum mb mia..
Saya mau tanya yaa..
Saya tertarik sekali dg kalimat "aku ingin menjadi seperti ibu. Keren banget,".
Bisakah saya diberikan contoh harus mulai darimana supaya anak perempuan saya bisa mengidolakan saya?. Anak saya baru 6 bulan. Kadang" saya pasang muka marah gitu ketika dia makannya sambil rewel atau ketika saya masih banyak kerjaan dan dia pengennya diajakin main terus. Saya takut saya jadi ibu yg ditakuti, bukan diidolakan.. ππ
Dijawab Oleh Mba Annisa
[21/9 7.26 PM] +62 813-2531-4292:
Menanggapi pertanyaa Mba Desti
✓ nah ini...sepertinya banyak ya ibu yg merasakan seperti ini...termasuk saya salah satu anggota nyaπ€
Astagfirullah...semoga saya segera dilembutkan hati dan tidak mudah emosi ππ»ππ»ππ»
Saya jadi teringat cerita Bu Septi ketika acara field trip di Lebah Putih tentang ibu beliau...kenangan Bu Septi terhadap Sang Bunda sangat melekat dengan indah...dimana yang terkenang oleh Bu Septi akan ibundanya adalah ibu yang selalu tersenyum bahkan ketika putra putrinya melakukan sesuatu yang "menggelitik" hati dan emosi. Bahkan dalam kondisi capek Sang Bunda tidak pernah absen membacakan buku cerita walau putra putri sudah terlelap tidur.
Jadi mungkin bisa disimpulkan anggota keluarga dimana salah satunya adalah anak adalah klien utama kita (ibu) sooooo berikan service excellent bagi mereka. Ketika bertemu klien kantor saja kita bisa bersikap baik, ramah dan manis...apalagi terhadap klien utama kita yaitu keluarga
Ditambah jawaban dari Mba Puji Hidayat
[21/9 7.31 PM] +62 852-0111-0142:
Menambahi penjelasan yg td ya...
π menjadi idola memang dambaan setiap orang, apalagi kita sebagai ibu, madrasah bagi2 anak2nya.
Semuanya itu tak lepas dr sebuah proses. Dan proses yg dominan mendukung adalah sebuah kesabaran.
√ Bs dimulai saat kita tengah mengandung lakukan aktifitas positif, karena segala aktifitas yg orang tuanya lakukan (selama mengandung) berdampak juga pd anak.
Begitu juga saat usia anak balita proses utk bs lebih sabar sering diuji. Dan lagi2 sang ibu (terkadang) gagal menahan emosi. Ujung2nya saat anak sdh mulai tidur, ibu menangis "gela" krn sdh memarahinya.
Intinya butuh proses sebuah kesabaran dlm membersamai anak. Jk memang emosi sdh meledak, katakanlah dg berkata yg bagus ("anak cakep, anak nurut...kalo selesai mainan diberesi ya. Kan sama jg tuh membantu ibu") krn memori anak lbh kuat utk daya ingatnya.
Pertanyaan ketiga datang dari Mba Mustamimul
πDalam pendidikan seksualitas supali keayah dan keibuan sangat dibutuhkan. Namun jika dalam keadaan salah satunya tidak ada/ single parent itu bagaimana?
πkemudian untuk kasus anak yang dititipkan ke day care bagaimana?
Terimakasih
Dijawab oleh saya
[21/9 7.36 PM] Mia Hapsari:
Menanggapi pertanyaan Mba Mustamimul
π± Ada beberapa cara untuk bisa mengisi figure yang hilang sehingga anak tetap tuntas fitrah seksualitasnya. Pada anak yang broken home selain dengan menikah lagi, bisa juga dengan mengisi figur yang hilang tersebut dengan memperoleh figur dari kakek/nenek, paman/tante atau bahkan gurunya.
π±Jika alasannya karena sesuatu yang sifatnya darurat harus menitipkan anak di daycare, sebaiknya pastikan beberapa hal
1. Day Care yang dipilih adalah yang mengoptimalkan peran orangtua dalam prosesnya
2. Orang tua tetap bertanggung jawab pada penumbuhan seluruh potensi fitrah, diharapkan orang tua tetap berkomunikasi dan kerjasama kan dengan Day care yang dipilih.
3. Manfaatkan waktu ketika bersama anak dengan sebaik baiknya
Namun jika masih memungkinkan bisa diasuh di rumah agar tetap bisa mendapatkan figur untuk menuntaskan fitrah seksualitasnya
Pertanyaan keempat dari Mba Marita - Semarang
[21/9 7.41 PM] +62 858-6655-6017:
Bagaimana cara mengatasi para perempuan yang mulai kehilangan sisi feminitasnya, sedang notabene sekarang dia sudah menjadi ibu? Bagaimana agar mereka bisa berperan sesuai gendernya dengan maksimal? Apa harus belajar fitrah seksualitas lagi dari awal?
Dijawab oleh Mba Vanny Martianova
[21/9 7.43 PM] +62 813-2557-3290:
πHal seperti ini prnh sy temui, kebetulan teman saya. Dr sekolah smpe punya anak 1 dia tomboy banget. Tp setelah pnya anak kedua dan ketiga lambat laun sisi kefeminitasnya muncul. Tentunya tak lepas dr dia berusaha dan belajar menempatkan diri sesuai gendernya. Krn dlm perjalanan membersamai anak2 mereka (kebetulan punya anak perempuan jg) dia tdk mau anak2nya meniru tingkah ibunya (yg agak tomboy) . Dukungan pendekatan penuh dr seorang ibu dan suami pun jg perlu. Krn belajar dan berusaha seorang diri tidaklah maksimal.
[21/9 7.44 PM] +62 813-2557-3290: jawaban yg ini merujuk ke Ust. Harry Santosa ya Mbak
ππ»ππ»
[21/9 7.44 PM] +62 813-2557-3290:
Jawaban ust Harry π€π€
Mereka yg selesai dan bahagia dgn dirinya adalah yg kembali kpd peran sejati atas fitrahnya lalu merasa tenang dan bahagia atasnya.
Maka langkah awal coba petakan fitrah mana yg tak tumbuh menjadi peran dalam hidup kita. Berikutnya tumbuhkan kembali fitrah itu dgn menyambut kembali panggilan utk menjadi ibu ssjati, jalani saja dgn jujur, syukur dan antusias, kelak fitrah itu akan kembali merekah indah. Mohonkan pertolongan kpd Allah agar senantiasa diberi jalan dan diberi hikmah utk kembali kpd fitrah
[21/9 7.46 PM] +62 813-2557-3290:
Jadi... simply speaking intinya...
dengan bertambahnya ilmu insya Allah feminitas akan muncul secara alami tanpa dipaksakan.
meningkatkan ilmu agama tentang fitrah wanita, tentang bagaimana menjadi istri sholihah dan ibu yang diamanahi anak" oleh Allah insya Allah akan mengembalikan fitrahnya juga.
karena kalau dia sdh memahami ilmunya, misal nih memahami kewajiban berjilbab, maka dia akan memakai jilbab, tomboy nya mulai berkurang tuh mbak...
insya Allah π☺
Disisa waktu 6 menit ada pertanyaan tambahan dari Mba Hernawati, lanjut dari pertanyaan yang keempat tadi sepertinya.
Pertanyaan dari Mba Hernawati
[21/9 7.55 PM] +62 812-2722-3224:
Q : masih berhubungan dengan kisah "tomboy tadi". Ini ada pengalaman seorang temen wanita. Yg memang seja kecil mandiri dan kerja keras. Ketika menikah punya pengalaman buruk hingga kawin cerai 3x. Dan ini menyakitkan. Dia menganggap tidak butuh laki-laki lagi. Dia bisa jadi ayah dan ibu juga. Bisa kerja cari uang untuk nafkahi anak anak. Dia cenderung mandiri sekali. Treatment apa ya yag baik untuk mengatasi hal ini????
Dijawab oleh Mba Vanny Martianova
[21/9 8.00 PM] +62 813-2557-3290:
penyembuhan via trauma cleansing, teknik SEFT, dan ruqyah serta aktif di kegiatan berkomunitas serta rutin ikut kajian pentingnya membina keluarga sakinah mawaddah warahmah serta kembali lagi ke belajar tentang fitrah sexual bisa menjadi obat.
insya Allah biidznillah.
namun tentu saja pengobatan ini mgkn akan memakan waktu lama, karena sakit hati yg bertumpuk" bisa menyebabkan seseorang antipati dgn pernikahan atau bahkan anti dgn lelaki.
ditakutkan bahwa ini akan berpengaruh pd pola pendidikannya terhadap anak".
secara tdk sadar membuat mirroring education shg anak" jg secara tdk sadar "terdidik untuk seperti tdk butuh ayah".
[21/9 8.04 PM] +62 813-2557-3290:
memberi pengertian bahwa tdk semua lelaki seperti itu (mantannya). sekaligus "maaf" sampai bercerai 3x kemungkinan ada faktor di dirinya jg yg menyebabkannya. krn sampai gagal berkali".
intropeksi diri dan kembali ke materi fitrah seksual~>
pilihlah pendamping yg tepat. jgn sampai salah pilih. pilih yg shalih. yg bisa jd Imam, yg berwibawa sehingga ia bisa menggantungkan dirinya dan mengandalkan diri dan keluarganya ke pria tersebut. wallahu alam..
maaf kalau sy salah y mbak.
mudah"an teman mbak wawak mendapat jodoh yg sholih, dapat menyembuhkan jiwanya dan dibuka kan cahaya hidayah oleh Allah swt. ππ
Alhamdulillah diskusi berjalan lancar, meski dengan ilmu kami yang masih terbatas. Saling belajar dengan teman-teman yang lain.
#bunda sayang
#fitrah seksualitas
#game level 11
#bunda sayang
#fitrah seksualitas
#game level 11
Tidak ada komentar:
Posting Komentar