Halaman

Senin, 01 Oktober 2018

Review Presentasi dan Belajar Kemandirian Day 7


Assalamualaikum….

Day ke 7 ini, kelompok 9 mengambil fokus materi menikah dini dan Tantangan Gender pada Usia Baligh. Materi dibawakan secara baik, semua terlibat. Waktu mulai dan selesai sesuai jadwal

Menikah dini apakah menjadi solusi fitrah seksualitas Aqil Baligh? Saat anak mengatakan “Ibu Aku Jatuh Cinta” bagaimana reaksi kita? Kalimat ini membuat kita berpikir, bagaimana kita sebagai orang tua bersikap saat anak bersikap demikian. Don't be panic menurut kelompok 9, karena hal ini menunjukan perkembangan dan fitrah seksual anak normal. Ya cinta merupakan perasaan fitrah yang dimiliki manusia, disaat anak pada titik ini seharusnya kita (orang tua) bersyukur karena fitrah seksualitas anak kita tumbuh dengan baik.

Menikah dini bisa dijadikan solusi fitrah seksualitas Aqil Baligh asalkan tahu ILMUnya, dukungan besar keluarga dan diniatkan pastinya kepada Allah. Beberapa tantangan Aqil Baligh jaman now :


1. Kondisi umat yang mulai krisis akhlak
2. Seks bebas, transgender, dan homoseksual
3. Masa depan


Berbeda dengan jaman dahulu, meski sama-sama membawa label menikah dini namun pernikahan bukan hanya sekedar mengikuti hawa nafsu saja. Anak muda jaman sekarang perlu persiapan mental yang baik dan akhlaknya, agar memandang pernikahan bukan hanya solusi pelampiasan nafsunya.

Peran orang tua adalah mengokohkan fitrah seksual di masa Aqil Baligh, beberapa cara pengolahan fitrah seksual pada anak :

  1. Menyediakan makanan yang halal dan tayyib
  2. Menghidupkan ruh dan akalnya sebelum mengisi waktunya. Ini sudah harus dimulai sejak fase-fase sebelumnya
  3. Menyediakan guru “spiritual” untuk si anak
  4. Menyibukkan anak dengan berbagai kegiatan keagamaan, sosial, ilmiah, dan positif lainnya
  5. Mendorong si anak untuk menjaga pandangan
  6. Memberikan pemahaman kalau hidup ini tidak hanya soal seks
  7. Orangtua harus jeli memperhatikan gerak gerik anak-anaknya
  8. Pengokohan hak dan kewajiban anak di masa baligh
  9. Memberikan pemahaman dari setiap akibat perbuatannya.
  10. Jika ia berduaan dengan lawan jenis apa akibatnya, jika dia masturbasi apa bahayanya bagi kesehatan jiwa raga dan hukuman dari Allah, dll
  11. Orangtua harus menjadi teladan, menjadi teman terdekat bagi si anak
  12. Menasehati secara langsung, tidak menyindir dan berbelit-belit
  13. Menghidupkan ruang diskusi di Keluarga

Solusi bagi para orang tua
  1. Pendidikan agama sejak dini
  2. Pemahaman tentang peran ayah bunda
  3. Perencanaan pendidikan
  4. Penggunaan dan pengenalan internet sehat

#Bunda Sayang
#Fitrah seksualitas
#Game level 11
Lanjutin Yuuukkk >>>

Minggu, 30 September 2018

Review Presentasi dan Belajar Kemandirian Day 6



Assalamualaikum…

Alhamdulillah hari ini mulai merangkak me-review presentasi kelompok 1. Melihat judulnya Menumbuhkan Fitrah Seksualitas di Jaman Milenial, rasa-rasanya “kita” banget ya. Dimana arus informasi yang masuk sangat masif, teknologi semakin canggih dan menuntut orang tua sekarang bagaimana menempatkan dirinya agar anak tidak mengikuti arus yang salah dengan cara tepat.

Meski judul hampir sama dan materi juga yang ditampilkan tidak jauh berbeda karena memang game level ini tantangannya adalah mengenai fitrah seksualitas. Namun gambaran-gambaran mengenai permasalahan fitrah jaman sekarang yang diberikan kelompok 1 diibaratkan nasi goreng, masuk kriteria nasi goreng spesial yang didalamnya ada bakso, seafood, telur, ayam dll. Iyaaa karena kelompok itu membahas fitrah seksualitas dari beberapa hal, fenomena anak-anak yang sudah berpacaran, menyangkut pubertas dini, bagaimana pengaruh gadget deelel. Beberapa gambar membuat saya sendiri tercengang, dan rasanya ingin mengeratkan pelukan ke anak-anak. Berikut gambarannya


Adanya perilaku seperti di atas karena pubertas dini yang dialami oleh anak, beberapa faktor pemicu pubertas dini seperti gambar berikut :


Beberapa penyebab anak mengalami pubertas dini :
  1. Kurangnya penanaman rasa malu di diri anak-anak dan tidak dikenalkannya anak-anak tentang batas-batas auratnya sejak dini. Bisa dilihat di sekeliling kita masih banyak anak laki-laki yang dibiarkan/ diajarkan BAK di luar rumah/ di got, masih banyak anak balita yang dibiasakan ganti baju di ruang publik (ruang tamu/ teras rumah), masih banyak anak-anak perempuan yang tak dibiasakan mengenakan legging/ celana dalaman saat memakai rok jadi celana dalamnya kelihatan.
  2. Tidak adanya pendidikan seksualitas sejak dini. Contohnya banyak anak-anak kelas 5-6 SD yang sudah mulai haid tanpa dibekali informasi yang tepat dari orangtua. Jangankan bagaimana cara membersihkan tubuh dan menjaga dirinya, bagaimana cara mengenakan pembalut saja banyak yang tidak tahu.
  3. Batasan pemakaian gadget yang tidak diatur dengan jelas. Yang penting anak anteng, biar kekinian, kasihan kalau nggak punya sedangkan teman-temannya punya menjadi alasan pemberian gadget pada anak-anak. Akhirnya energi anak yang berlebih tidak tersalurkan dengan baik karena lebih banyak bermain gadget. Energi berlebih yang tidak tersalurkan ini bisa membuat anak-anak berselancar ke tempat-tempat yang tidak semestinya di dunia maya.
Beberapa solusi yang ditawarkan :
  1. sebagai orangtua kita harus membekali anak-anak informasi yang benar tentang pubertas
    Tentunya kita tidak perlu menunggu anak2 kejadian "mens" atau "mimpi basah" dulu ya baru kita ceritain, sebisa mungkin sebelum anak usia 10 tahun sudah dibentengi dengan pengetahuan ini jadi anak2 sudah siap terlebih dahulu
  2. untuk pubertas pada laki-laki sebaiknya disampaikan langsung oleh ayahnya. Tentu dong ya.. kalau yang cerita pakarnya langsung kan anak jauh lebih paham..
  3. selain perubahan fisik, menstruasi adalah hal yang paling bikin anak2 bertanya2. maka akan lebih baik jika kita mampu memberikan informasi yang benar dan seimbang untuk anak2.. biar anak2 nggak merasa takut, jadi nggak ada lagi anak2 yang dapat haid pertama nangis teriak2 ketakutan.
  4. Nah, yang paling penting lagi selain hal-hal di atas adalah PENTINGNYA ORANGTUA menjadi RUMAH yang NYAMAN untuk ANAK-ANAKnya.




#bunda sayang
#fitrah seksualitas
#game level 11






Lanjutin Yuuukkk >>>

Jumat, 28 September 2018

Review Presentasi dan Belajar Kemandirian Day 5




Assalamualaikum….


Di hari kelima level 11, presentasi fitrah seksualitas semakin kece. Kelompok 10 ini berfokus pada Pengenalan Fitrah Seksualitas Pada Balita. Pastilah banyak yang di noted teman-teman grup bunsay, yang mayoritas baby-nya masih balita.


Presentasi dibuka dengan lagu mengenai konsep gender pada anak, ah pastinya serruu yah. Materi dibawakan secara merata oleh tim kelompok 10, semua menyajikan selain moderator (Mba Nura Fajria). Presentasi mengalir seperti bercerita dan tidak terkesan menggurui, dan contoh-contoh yang disajikan sepertinya pengalaman langsung dari kelompok 10.


Pengenalan konsep gender pada anak, agar anak memahami identitas gender itu sangat perlu sehingga anak memahami peran dan bagaimana melindunginya. Apalagi di zaman milenial seperti sekarang. Ada beberapa solusi yang bisa ditawarkan oleh kelompok 10 dari mulai
  1. Membatasi dan menyeleksi tontonan televisi, YouTube dan video pada anak balita
  2. Mengajarkan anak untuk tidak BAK di sembarang tempat
  3. Mengajarkan rasa malu dari dalam rumah
  4. Memisahkan kamar tidur anak laki-laki dan perempuan sejak masih balita
  5. Masalah menumbuhkan fitrah seksualitas sejak dini. Sesuai prinsip menumbuhkan penjelasan fitrah seksualitas dr ust. Harry santoso
  6. Mandi tidak bersamaan


Selain solusi diatas, pada anak balita menumbuhkan fitrah seksualitas juga bisa dengan memulai mengenalkan bagian-bagian tubuh ke anak dengan bahasa yang baik sesuai usia mereka namun bukan dengan bahasa perumpamaan. Mengenalkan pada anak bisa dengan cara yang menyenangkan, mendongeng, bermain gambar dll.


Dari beberapa pertanyaan yang masuk, ada satu pertanyaan yang membuat mata melek dan musti ngelus dada dari mba Yunita.


Ada kasus tetangga desa saya yang sesama anak TK (perempuan) sebut X dan Y, suatu hari Ibu X curiga, mereka main di kamar tapi ditutup, saat Ibunya membuka pintu, shock karena (maaf) melihat Y memasukkan jarinya ke vagina X.
Dari contoh kasus diatas, pemahaman fitrah seksualitas memang harus ditanamkan sejak dini, dengan pengertian sebenarnya namun bahasa yang dimengerti anak.


#bunda sayang
#fitrah seksualitas
#game level 11




Lanjutin Yuuukkk >>>

Review Presentasi dan Belajar Kemandirian Day 4


Assalamualaikum……

Masuk ke day 4, semakin keren yang dibahas berkaitan dengan fitrah seksualitas. Meski tidak dengan full team karena ada 2 orang anggota team berhalangan karena ada tugas yang tidak bisa ditinggalkan dan satunya karena baru jadi new mommy tidak membuat team ini sepi, bahkan meski mendapat jatah hari libur tidak membuat surut teman-teman mengikuti diskusinya.

Share materi pagi hari, menerima pertanyaan sampai dengan siang hari, membuat teman-teman bisa terlebih dahulu intip-intip permasalahan apa yang difokuskan oleh kelompok 3. Kelompok 3 mengangkat atau memfokuskan tentang penyimpangan fitrah penyuka sejenis atau LGBT. Di dalam share materi sebelumnya sebenarnya sudah ada pertanyaan yang sudah muncul di dalam kelompok dan sudah disajikan, tapi ini tidak menyurutkan teman-teman lain mengikuti asyiknya materi yang diberikan.

Diawal presentasi materi, pemateri sudah tidak menjelaskan materi kembali tapi kami malah disuguhkan dengan beberapa gambar tokoh perfilman baik dari luar maupun dalam negri, sebagai berikut :


Dan diberikan kondisi riil mengenai LGBT sekarang di Indonesia.

Teman-teman yang mengikuti diskusi diajak bermain tebak-tebakan, dan ini benar-benar efektif, seakan kami diajak fokus kembali ke materi namun dengan cara yang menyenangkan. Penjelasan materi yang interaktif membuat suasana semakin hidup dan membuat yang belajar jadi tidak bosan. Bahkan peran setiap anggota tim juga dibuat merata.

Meski diawal sudah disajikan pertanyaan dan jawaban, namun pertanyaan mengenai fokus tema yang dibawakan tetap muncul. Pertanyaan mengenai kasus yang terjadi membuat perbincangan dan diskusi menjadi semakin menarik. Pemberi jawaban bukan hanya dari tim penyaji materi bahkan teman-teman yang lainpun ikut masuk dalam diskusi dan memberi jawaban dari sudut pandangan mereka dan apa yang mereka ketahui.


Berikut materi yang disajikan, pertanyaan dan jawaban yang menghangatkan diakusi.


Pertanyaan dan diskusi :
Pertanyaan dari Mba Puji Hidayati
Sy pny teman laki2 sdh menikah, kdg2 suka curcol japri ke saya. Curcolnya agak jujur gtu. 🤭🤭

Jadi gni,klo menurut sy dia itu type org yg suka berteman dg siapapun tak pandang2. Cm hny sj saat berteman dg teman laki2nya (yg dianggap khusus)  sebutan kedia itu BF. Awalnya dia ngejelasin BF y best friend. Tp suatu saat ad yg bkin ak janggal,dia telfon2an dg teman laki2ny (kebetulan dload speaker) sy denger ada sapaan kata "sayang", "say" gtu. Prnh WA  ke saya jg isinya "say, lg ngapain". PdhlbBahasa dia ke sy gak begitu bngt,  tak bales, katanya salah kirim. Sy jd semakin curiga dan merasa kasihan jg. Bagaimana dg istrinya.  Tahukah?

Yg sy tanyakan,,
🌱  pertemanan yg sprt itu kira2 trmsuk penyimpangan fitrah seksual gak?
🌱 bagaimana cara sy meluruskannya?  Perlukah sy cerita kpd istrinya?  Sy kasihan pd istrinya, biar dia tau dan jg bantu meluruskan…

Jawaban pertanyaan 1
- Miradita
Mencoba menanggapi ya mba...
Menurut saya terkadang masyarakat kita masih terlalu membeda2kan.
Ketika 2 orang perempuan berteman panggil "say, beib... dll" *itu normal*
Kalo laki2 sepertinya tabu yang begitu... bisa jadi sebenarnya sama saja, tapi karena stigma di masyarakat jadi terkesan kurang pantas.

Termasuk penyimpangan fitrah seksual atau tidak? Kita tidak bisa hanya melihat dari nama panggilan khusus aja, harus dilihat juga gaya pertemanannya seperti apa? Menurut mba Puji apakah itu berlebihan untuk pertemanan antara 2 orang laki2 seperti itu.

Kemudian untuk masalah istrinya... ini yang sulit ya, karena menurut saya bukan wewenang kita untuk ikut campur urusan RT orang, tapi disisi lain mbak Puji menjadi tempat curhat dan menurut mbak "ada sesuatu yang kurang etis" terjadi disini.
Saran saya coba ngobrol pelan-pelan dengan istrinya, coba lihat dulu sudut pandang sang istri bagaimana. Jangan langsung main beberkan fakta soal suami, dimana menurut saya belum tentu ada sesuatu yang tidak patut terjadi disini

- Puji Lestari
Sy mencoba menambahi jawaban dr @⁨Miradita⁩ , sy punya saudara yang juga begini mbak puji,masih sepupu..kalau manggil temennya cin,say..pdhl sesama lelaki,gayanya emang agak "melambai" tp secara fitrah seksualitas dia normal,dia sudah punya istri dan 2 anak..karena istrinya tau dr awal kalau suaminya seperti itu ya dia terima saja dan alhamdulillah sampai sekarang rumah tangganya harmonis sudah sekitar 11 tahun mereka menikah

Untuk poin kedua, sy sepakat dengan mbak @⁨Miradita⁩ 😁

-Sri Indahyani
Berbicara fitrah seksualitas, kita berbicara mengenai bagaimana *cara pikir, cara merasa dan cara bertindak* sesuai dengan gendernya laki-laki sejati atau perempuan sejati.

Apakah salah bila seorang laki2 memanggil sayang atau say dengan temannya sesama lelaki? Mungkin sebagian ada yg bilang salah atau justru tidak, selama panggilan sayang itu hanya sebatas panggilan hanya dlm tuntutan pekerjaan misalnya. Tapi, siapa yg bisa menjamin? Lingkungan adalah faktor yang besar pengaruhnya.

Sebagai org dewasa/ortu kita dituntut utk mjd contoh yg benar dan baik agar anak bisa tegas menyatakan dirinya sebagai lelaki tulen atau perempuan tulen.

Apakah pertemanan seperti itu menyimpang? Tidak bs juga kita langsung menilai ini menyimpang tanpa ditunjang info2 valid lainnya. Atau tanpa kita tahu apakah maksud dr si teman ini dengan sebutan sayang.

Bagaimana cara meluruskannya? Selama kita blm tahu persis apa yg terjadi, tidak salah sampaikan saja langsung ke temannya bahwa kita merasa ga nyaman, risih atau janggal dengan gaya dia, menyebut dan menggunakan kata sayang ke teman lelakinya. Cari tau alasannya mengapa menggunakan kata tersebut. Nah, bila dari alasannya kita sdh dapat menyimpulkan bahwa ada yang salah, silahkan sarankan teman ke ahlinya.

Pertanyaan lanjutan dari mba Puji Hidayati
Yupz mba.  Saya paham. Dicari dlu kepastiannya y mba,,☺
Tp ini ya mba ANDAIKATA,  dikemudian hari sy menemukan sesuatu kejanggalan (misal kyk mengarah ke Gay gtu) tindakan apa yg hrs sy lakukan,agar dia gk salah terus2an?

Jawaban Mba Indah Laras
Ijin nanggapin ya mba ... kalo saya tipikal orang yang langsung bicara ke yg bersangkutan. Apalagi pertemanan mb Puji cukup dekatkan?

Seperti yg sdh sampaikan di jawaban, sampaikan langsung saja mba kalau kita merasa aneh atau risih dn sikapnya. Sampaikan dengan baik2 dan tawarkan bantuan untuknya, seperti yg disarankan mb Ririt

Ijin menambahi jawaban dr mbak @⁨INDAH Laras⁩ ttg pertanyaan mbak @⁨Puji Hidayati⁩
Sy sepakat dengan pendapat mbak indah, klo pertemanan mbak puji sudah dekat dengan dia,bolehlah ditegur langsung dengan kata2 yang baik,sampaikan tawaran bantuan kepadanya, seperti dalam islam sendiri kan kalau kita melihat suatu kemungkaran maka kita wajib mencegahnya, kalo mampu dengan tindakan, klo tidak mampu dengan lisan, dan klo dg lisanpun tidak mampu maka cukup mendoakan dengan hati agar orang itu segera sadar.

Tanggapan dari peserta lain dengan pengalaman kasus yang sama (Mba Marita) dari pertanyaan 1
Saya nambahi cerita pengalaman saja yaa...

Jadi Saya Punya Dua teman laki2.. mereka ini sahabatan. Sebut saja A dan B. Suatu Hari kami mendapat suatu fakta kalau B pernah mengalami kekerasan seksual di waktu kecil hingga menyebabkan dia menjadi SSA (same sex attraction).

Smp sekarang pun si B belum menikah.

Si A sbg sahabat ingin menolong. Ingin narik Si B agar bs jadi lelaki normal sesuai fitrahnya. Masuklah ke circle pertemanan si B.

Hasilnya?

Si A justru "tertular". Kalau dirunut si A ini memang kurang vitamin A alias sosok ayah.. ibunya yang lebih banyak berperan. Jadilah kemudian si A menjadi SSA. Tapi dia bilang im not homo, im biseks. Sama laki oke sama wanita oke.

Lama2 gesture, Cara ngomong berubah.. kemayu, pakai panggilan say say begitu. Tapi di depan ibunya, dia bs berubah menjadi sosok laki2 yang lakii banget.

Si A ini akhirnya menikah.. Punya anak 2. Istrinya pun berhijab lebar. Bahkan fyi si A ini aktivis rohis, Dan yang support Saya pakai hijab pertama Kali. But setiap Saya lihat postingan IG nya.. bs ngerasain dia blm sembuh benar meski sudah beranak istri.

Hati2 sama lingkungan.. apalagi lingkungan ngegym.. bahaya bangeeet.

Beneran pelakor nggak cuma wanita, laki juga banyak
Mungkin temannya mbak @⁨Puji Hidayati⁩ kalau memang bener2 terbukti udah Ada faktanya.  Bs dimasukkan ke grupnya kak Sinyo Egi yang Peduli Sahabat .

Ada juga grup Menanti Mentari khusus utk istri2 yang di grup Peduli Sahabat utk saling menguatkan menemani suami yang diberi ujian berupa SSA.

Pertanyaan 2 dari mba Frizdew Rovanty
Terkait poin tantangan :
- Bagaimana pendapatnya ttg artis yg di layar kaca berpenampilan banci, tetapi di dunia nyata dia (mungkin) paham kodratnya sbg lelaki, dan tetap berpenampilan lelaki. Apakah itu juga tetap dikatakan penyimpangan fitrah seksualitas ?

- bisa tolong dijelaskan lebih detail, apa itu hal2 yg tak tampak/lumrah ? Beserta contoh

Terimakasih

Jawaban Pertanyaan ke 2
- Puji Lestari
Saya mencoba menjawab ya mbak, menurut sy klo memang di dunia nyatanya dia tetap berpenampilan normal dan menjalankan fitrah seksualitasnya juga secara "normal" berarti dia tidak menyimpang dari fitrahnya. Dia berpenampilan banci mungkin karena memang tuntutan pekerjaannya seperti itu.

-sri indahyani
Itulah case yang kami soroti dan cukup menggelitik bagi kami di kelompok 3. Kenapa, harus berpenampilan dan bertingkah banci untuk bisa disukai atau tampil? Dan mengapa juga masyarakat pada umunya lebih menyukai figur2 seperti ini muncul di layar kaca? Ada rating yg mjd tuntutan disebuah acara TV dan biasanya acara dengan host bergaya banci ini, cukup tinggi atau diminati. Tapi terlepas dari itu, apakah ini penyimpangan fitrah seksualitas? Selama dalam kehidupan nyata mereka menjalankan perannya sebagai lelaki sejati, kami pikir ini bukan penyimpangan TETAPI ini bukanlah contoh yang tepat.

Maka, mulailah dari kita, sebagai ortu atau orang dewasa dilingkungan terdekat anak utk mampu menjadi role model yang tepat dan benar.

Jawaban untuk Poin 2
- Sri Indahyani IP Misal : sikap Ayah di rumah yang kurang/tidak peduli dengan tugas2 domestik. Semua dibebankan ke istri. Karena asumsi banyak orang bahwa urusan pekerjaan domestik adalah kewajiban istri. Hal2 seperti ini bisa jd role model anak bahwa anak2 laki2 nggaj ngurusin yg begini. Dan itu dianggap lumrah oleh sebagain orang. Karena pola pendidikan patriaki yg turun temurun. Atau seringkali tanpa sadar ortu serigkali berusaha memudahkan semua masalah/tantangan yg dihadapi anak. Misal, 2 anak yg berselisih, ortunya ikut2an (pdhl yg sering tjd, anak mampu kok utk menyelesaikan perselisihannya). Ada masalah antar teman di skeolah, ortunya yg maju untuk menyelesaikan.

Pertanyaan ke 3 dari mba Muja Yannah
Didikan ortu yg bagaimana yg bs menghambat Fitrah seksualitas tumbuh dengan optimal?

Jawaban dari mba Indah Laras
Sama dengan jawaban untuk mba Frisdew
Pertanyaan mb Muja sama dengan dengan mb Frizdew. Jadi, Insya Allah sudah terjawab ya mba

Pengalaman dari peserta (Mba Marita) menanggapi pertanyaan ke 3
Saya mo nyeritain pengalaman teman ibu saya ya.
Ortu teman ibu udah Punya 3 anak perempuan. Ketika lahir anak keempat, saking pengennya Punya anak laki2.. anaknya ini didandani Kaya laki2.. Pakainya baju laki2.. rambut dicepak. Sampai masuk sekolah dia nggak nyaman pakai rok.. berontak.

Akhirnya skrg sudah tua.. jadi lesbi 😭😭😭

Punya 'istri'.

Kalau yg nggak ngeh.. nggak bakal tahu dia cewek deh. posturnya udah kaya bapak2 banget



#bunda sayang
#fitrah seksualitas
#game level 11



Lanjutin Yuuukkk >>>

Kamis, 27 September 2018

Review Presentasi dan Belajar Kemandirian Day 3

Assalamualaikum….

Masuk hari ke 3, hari ini tugas dari kelompok 5 yang akan mempresentasikan materinya. Anggota kelompok 5 sebagai berikut :
1. Ayu Candra
2. Ferria Cemerlin

3. Mustamimul Rofiqoh
4. Rieski Kurniasih
5. Sri Sundarsih
6. Yuliyan Aini

Pembagian tugas cukup merata, dan di jelaskan pula alasannya saat ada anggota yang berhalangan.
Materi masih tentang fitrah seksualitas dengan fokus Pentingnya Mengenalkan Perbedaan Gender Pada Anak.

Materi dishare terlebih dahulu sehingga teman-teman bisa membaca dan mengajukan pertanyaan sebelum diskusi dimulai. Materi dapat dilihat di link berikut


Materi sangat apik dibuat, semakin membuka mata kita bahwa membedakan gender bukan berarti mengkotak-kotakkan permainannya atau yang dikerjakannya tapi bagaimana pondasi fitrah seksualitas itu dibangkitkan oleh ayah dan ibu. Bagaimana anak memaknai hakikat seorang laki-laki dan perempuan. Seperti memaknai bahwa fitrahnya seorang wanita adalah hamil dan melahirkan. Meski tetap perlu membatasi bukan melarang, semisal anak ingin bermain peran rumah-rumahan sebaiknya ia memilih menjadi seorang bapak atau peran lain yang membutuhkan kelaki-lakian.

Masuk beberapa pertanyaan dari teman-teman hanya saja langsung dijawab oleh teman-teman kelompok 5. Berikut penyajian pertanyaan dan jawaban :

-------++++++++-------

[22/9 7.20 PM] ‪+62 857-2562-0032‬:
Pertanyaan 1

Dari Puji

Permasalahan gender di masyarakat yaitu perbedaan peran dan tanggung jawab seperti yang sudah disebutkan di pembahasan td. Bagaimana cara mensikapi suami yg kadang enggan membantu pekerjaan rumah tangga, dia beranggapan bahwa itu adalah tanggung jawab istri. Padahal istri bekerja di ranah publik.

Jawaban 1 :
Oleh mba rieski
Sangat di perlukan komunikasi yang produktif antara pasutri apalagi keduanya bekerja di ranah publik. Dan bisa di diskusikan tentang pembagian tugas, bunda bisa jelaskan kalo bunda butuh bantuan ayah untuk pekerjaan rumah, nanti biar ayah yang pilih pekerjaan mana yang ingin dikerjakan. Jangan lupa ucapkan terima kasih atau beri pelukan atau ciuman sebagai hadiah karena sudah di bantu. Ingat pesan pak Doddy mungkin karena kita berbagi beban bukan berbagi kebahagiaan. Saat minta tolong hindari sambil ngomel-ngomel ya bunda.

Tambahan dari mba sri sundarsih terkait pertanyaan 1
Perlu adanya komunikasi aktif utamanya istri. Gunakan waktu-waktu berdua (saat anak bermain/ sudah para tidur) untuk menyampaikan apa yang Kita inginkan. Bukan mengkritik tapi lebih pada berbagi Rasa sehingga Kita bisa sentuh tepat dihatinya...💓 
Jangan mudah menunjukkan kekecewaan atau perasaan kesal dihadapannya.

Pertanyaan 2
Endriyani-semarang
Mba, anak saya cowok usia 4th. Setiap mainan bahkan baju yang berwarna pink, dia akan selalu bilang "itu kan buat cewek, mah? Aku ga mau!"
Bagaimana cara menjelaskannya supaya dia tetap bisa bermain dan memakai warna tersebut?

Akan tetapi dia tidak keberatan untuk bermain masak-masakan karena dari awal saya tidak bilang itu adalah mainan anak perempuan seperti kata orang kebanyakan.

Jawaban pertanyaan 2

Oleh mba feria

Secara fitrahnya, si anak sudah mampu menjelaskan bahwa dia adalah cowok. 


Untuk masalah warna, mungkin bisa diberikan pengertian bahwa tidak ada pembedaan warna untuk cowok maupun cewek, seperti halnya dengan mainan misal masak masakan. Secara tidak langsung, kita akan menghilangkan persepsi stereotip yang sudah masuk ke diri anak.

Tambahan dari mba sri sundarsih
Mama tidak perlu khawatir dengan putranya yang sudah mulai memahami Fitriah seksualitasnya. Tinggal mengembangkan  bagaimana dia memiliki tanggung jawab yang sesuai dengan fitrahnya.

Pertanyaan 3
Yuli P. Nitip pertanyaan mba:
1. Jika dikatakan bahwa mengkotak2 kan mainan kpd anak tdk mempengaruhi gender lantas hal apa yang berpotensi mempengaruhi gender pada anak?

2. Jika ada seorang ibu yg jd tulang punggung keluarga kemudian si ayah yang mengurus rumah tangga apakah itu bisa dianggap penyimpangan thp gender?

Terimakasih 😊

Jawaban pertanyaan 3

dari mba Feria

1. Seperti yang ditulis oleh Bapak Harry, isia 0-2 tahun, anak lelaki dan perempuan didekatkan pada ibunya karena ada menyusui, di usia 3 – 6 tahun anak lelaki dan anak perempuan harus dekat dengan ayah ibunya agar memiliki keseimbangan emosional dan rasional apalagi anak sudah harus memastikan identitas seksualitasnya sejak usia 3 tahun.


Kedekatan paralel ini membuat anak secara imaji mampu membedakan sosok lelaki dan perempuan, sehingga mereka *secara alamiah* paham menempatkan dirinya sesuai seksualitasnya, baik cara bicara, cara berpakaian maupun cara merasa, berfikir dan bertindak sebagai lelaki atau sebagai perempuan dengan jelas. Ego sentris mereka harus bertemu dengan identitas fitrah seksualitasnya, sehingga anak di usia 3 tahun dengan jelas mengatakan “saya perempuan” atau “saya lelaki”

Jika pada usia ini orang tua berperan secara maximal, fitrah seksualitas anak tidak akan cidera.

2. klo menurut sy, selama dalam keluarga si Ayah mampu memperlihatkan perannya sebagai pemimpin dalam keluarga, cinta kasih terhadap keluarga, sy menganggap hal demikian bukan merupakan sebuah bentuk penyimpangan gender. 
Bekerja bukan saja dari rumah ke kantor, ada bekerja di ranah publik & bekerja di ranah domestik. Semua akan tercipta harmonisasi apabila ada komunikasi yang produktif, jangan menilai hasil akhirnya dengan nilai rupiah.

Tambahan dari mba sri sundarsih terkait pertanyaan 3 point 2
2. Menurutku tidak menyimpang terhadap gender selama ayah mampu mempososikan diri sebagai kepala dirumah. 
Hanya saja pada kondisi ini, istri perlu kendali kuat untuk ihlas bahwa memang Rizki keluarga berasal dari tangannya sehingga tidak mudah menganggap remeh pasangan.

Pertanyaan 4
Desti Putry Assalamualaikum mb mustamimul.. 
Saya mau tanya ya.. 
Di slide ada kalimat yg intinya antara laki" dan perempuan harus bisa sama" mengatur rumah tangga, berperan dalam pemerintahan dll. 
Persamaan ini apakah sudah sesuai dg fitrah, mb? 
Saya jadi ingat pelajaran SD di kelas 2, bahwa salah satu peran ibu adalah pengatur rumah tangga. Jadi yang sesuai fitrah itu yg bagaimana?
Terimakasih.. 😘😘

Jawaban pertanyaan 4

Dari mba Rieski

Fitah ayah sebagai pemimpin dan ibu adalah manager keluarga untuk masalah mengatur rumah tangga memang harus bersama-sama, karena sang meneger butuh bimbingan dan arahan dari sang pemimpin dan tentunya keputusan terakhir berada di tangan pemimpin, begitu juga sang pemimpin dia membutuhkan sang manajer agar misi keluarga tercapai


Dalam pemerintah seorang ibu adalah madrosatul ulwa dari tangan ibu ini akan muncul pemimpin yang beradab

Tambahan dari mba ferria
Mengatur rumah tangga adalah urusan bersama, ayah & bunda, sesuai dengan peranannya masing masing. Dimana Ayah mampu menjadikan lisan saktinya dalam kepemimpinan keluarga, Bunda menjadikan tangan saktinya dalam merawat dan melayani.

Tambahan dari mba mustamimul
Peran-peran dalam keluarga tidak seluruhnya kaku sebagi peran ibu/ ayah, namun ada yang dapat dipertukarkan. Sebaiknya, peran-peran yang melekat pada perempuan atau laki-laki di dalam keluarga tidak terjebak pada streotype yang dilekatkan pada perbedaan gender.  Kesadaran akan kesetaraan gender sangat diperlukan dalam rumah tangga, sehingga fitrah keayah bundaan dapat terpelihara dan dapat bekerja sama dalam mengatur keluarga.

Pertanyaan 5
Rovanty 
1. Apakah dari solusi2 yg diberikan, akan menjawab tantangan gender di kehidupan sosial yg sudah tuliskan sebelumnya ? 

2. Soal permainan : bagaimana pendapatnya ttg anak lelaki yg suka bermain Barbie Atau boneka orang2an ? Yg kadang bahkan ga bisa lepas dg boneka orang2annya dibawa kemana2. Apakah poin tidak mengkotak2an mainan masih berlaku ?

3. Pada point slide terkahir “penting untuk dilalukan”, jd gimana menurut pemateri ttg emansipasi wanita ? 

Terimakasih.

Jawaban dari mba ferria
1. Solusi tersebut dianggap mampu menghapus persepsi stereotip yang muncul saat ini, yang telah membuat fitrah seksualitas anak cidera, yang tentunya akan berdampak buruk dalam pertumbuhan dan perkembangan.

Jawaban dari mba rieski pertanyaan 5 poin 2
Bisa dilihat dari awal knp si boy ini bisa seperti ini, tentunya bisa di lihat jga aspek lain. Apakah terjadi penyimpangan atau tidak

Tambahan dari mba mustamimul pertanyaan 5 poin 2
Yang terpenting adalah menumbuhkan kesadaran fitrah seksualitas pada anak. Jika kesadaran tersebut sudah tumbuh tidak masalah. Karena jenis permainan anak tidak mempengaruhi gender. Saat ini masih banyak ditemukan orang tua yang masih mengkotak-kotakan maianan anak.

Tambahan dari mba ferria
Boneka, mobil mobilan *hanyalah sebuah media* untuk mencurahkan daya kreasi & imajinasi. Selama peran orang tua sudah mampu membangkitkan fitrah seksualitasnya, terutama pada tahap tahap awal usianya, anak akan secara alamiah memahami bagaimana harus bersikap terhadap media tersebut, bagaimana menjalankan permainan itu.

Jawaban dari mba rieski pertanyaan 5 poin 3
Emansipasi wanita adalah mengembalikan fitrah sebagai seorang ibu dan fitrah sebagai seorang individu dimana keduanya bisa berjalan beriringan

Tambahan dari Ayu Candra pertanyaan 5 poin 3
Setinggi-tingginya jabatan seorang istri tetaplah harus menghormati suaminya sebagai imamnya sebagai pemimpin keluarga. Seperti yang tertera dalam Al-Qur'an Surat Annisa ayat 34
"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar."
Emansipasi wanita menurut saya lebih mengacu pada cara berfikir seorang wanita yang mampu menjadi mandiri, berjalan beriringan tanpa melupakan kodratnya (fitrah yang dianugerahkan sejak lahir dari Allah SWT).

Tambahan dari mba Sri sundarsi pertanyaan 5 poin 3

ersamaan gender bukan berarti semua disamakan. Persamaan ini tentu sesuai Fitrah masing2.  

Contoh Di dalam rumah tangga suami punya tanggung jawab sebagai  direktur rumah tangga, istri sebagai manajer. suami punya peran penentuan kebijakan tanpa meninggalkan pertimbangan istri.

Emansipasi boleh tapi jangan kebablasan, sehingga melupakan Fitrah masing2. Sehingga tidak terbolak balik. 
Kita tidak boleh melupakan bahwa (arrijaalu qowwamuna alannisa') laki2 adalah pemimpin Perempuan

Demikian diskusi kami dalam menjawab pertanyaan teman-teman terkait materi yang kami sampaikan.
Jika ada kekurangan dari kami dalam menjawab pertanyaan, kami mohon maaf.


-------++++++++-------

Penyajian pertanyaan sekaligus dengan jawaban yang langsung dimunculkan diawal diskusi,  sebenarnya membantu teman-teman sehingga tidak kesulitan mencari pertanyaan dan jawaban, cukup ringkas pula. Namun kekurangannya membutuhkan waktu membaca, karena 5 pertanyaan yang masuk langsung dishare dengan jawabannya. Diskusi pun seakan mandeg dan kurang hidup. Mungkin karena waktunya bertepatan dengan weekend sehingga banyak teman-teman yang sedang quality time dengan keluarga sehingga diskusi agak sepi.



#bunda sayang
#fitrah seksualitas
#game level 11
Lanjutin Yuuukkk >>>