“Selisih paham sering kali muncul bukan karena isi percakapan melainkan dari cara penyampaiannya. Maka di tahap awal ini penting bagi kita untuk belajar cara berkomunikasi yang produktif, agar tidak mengganggu hal penting yang ingin kita sampaikan, baik kepada diri sendiri, kepada pasangan hidup kita dan anak-anak kita”
Setelah melewati kelas Materikulasi selama 9 week di Institut Ibu Profesional (IIP), Alhamdulillah dinyatakan lulus dan bisa naik next level di kelas Bunda Sayang untuk tetap bisa belajar menjadi Ibu Profesional untuk diri, anak dan suami.
Banyak sekali perbedaan antara kelas materikulasi dan BunSay (Bunda Sayang) ini, di kelas materikulasi meski ada tugas yang di lakukan real nya tapi lebih banyak mengkonsep, setor tugas di akhir minggu, sedangkan di BunSay ini langsung dipraktekan dan setor tugasnya setiap hari di medsos dengan settingan public, WOW kan?? (*lap keringat). Untungnya di Materikulasi kemarin sempat diajarin ngeBlog sama mba Marita (teman IIP, makasih mba Marita loph loph), jadi setor tugasnya bisa via blog.
Materi Kelas Bunda Sayang Sesi #1 Komunikasi Produktif, dengar judulnya saja sudah mak jlebb bagi saya. Setelah menikah dan hingga sekarang hal ini yang masih dalam proses dan proses belajar. Dengan suami, kami memiliki latar belakang keluarga yang sangat berbeda hal ini membuat kami memiliki tipe dan sifat berbeda, cara pandang berbeda, hampir semua hal berbeda membuat FoE dan FoR kami seperti punggung bertemu punggung, mungkin ini yang membuat kami jatuh hati ( eeyyaaa) meski selalu ada proses belajar mengerti, memahami dan memaklumi. Tentulah setelah menikah lambat laun akan muncul persamaan (berasa matematika) ingin menjadikan keluarga ini keluarga yang sakinah, mawadah dan warohmah hingga bisa menuju Jannah’Nya dan memiliki keturunan yang soleh dan solehah.
Memiliki Innerchild yang kurang baik, membuat emosi yang saya miliki sedikit banyak mempengaruhi komunikasi saya baik dengan suami maupun anak, dan inilah tantangan terbesarnya. ada kalanya benar-benar harus merepres emosi yang akan keluar dan selalu mencari pikiran waras disaat kondisi benar-benar tidak menguntungkan. Berselisih paham dengan suami beberapa kali terjadi setelah menikah dan sebenarnya bukan karena kata-katanya yang salah tapi intonasi dan gesture yang sering membuat permasalahan menjadi besar (watak, logat saya lebih kasar dibandingkan suami) dan Kaidah 7-38-55 menjadi pilihan tepat untuk memperbaiki komunikasi produktif kami.
Lahirnya si Kakak Zameena Aiko Nursabrina (Aiko dan sekarang menjadi kakak Aiko membuat kami belajar kembali dan memiliki kesepakatan menggunakan kata yang baik dan santun, membiasakan pelukan dan ciuman untuk si kakak (bersepakat pola asuh masa lalu tidak terbawa), namun setelah lahirnya adek Abimana Althario Nurfatih (adek Al) 9 bulan yang lalu, 40 hari pertama setelah melahirkan (secara cesar) membuat fisik saya belum bisa pulih sempurna untuk membersamai kakak dan beradaptasi dengan segala kesibukan mengasuh 2 batita , dan hal tersebut sangat berpengaruh terhadap kestabilan emosi saya (saat itu).
Kakak Aiko (sebelum adanya adek) sudah lebih mandiri, berani, dan kecakapan lainnya, serta memiliki sikap yang sweet (seusianya). Saya biasa memberikan sounding terhadap kakak semenjak bayi, mulai dari sounding “kalau nenen dikenyot karena kalau kegigit mama sakit” dan Alhamdulillah sampai 2y4m mengAsihi si kakak tanpa drama gigit mengigit, menyapih kakak pun hanya butuh waktu 4 hari dan dengan metode WWL, selalu nice dalam perjalanan jauh maupun dekat, dan tidak pernah memaksakan apa yang memang tidak boleh dilakukan/ dimakan. Berubah menjadi manja, egois, dan tidak mau berbagi. Saya sungguh mengerti kondisi kakak yang masih kaget menerima perhatian, waktu yang terbagi dengan adiknya (meski sounding sudah dilakukan, dan saat kehamilan si kakak selalu diajak dalam aktifitas apapun yang berkaitan dengan si adek dan awalnya si kakak sangat interest). Di waktu 40 hari itu, beberapa kali si kakak tantrum dan emosi ini terkadang tidak bisa terbendung meski sudah berusaha ditahan.
Sekarang ini adalah tantangan untuk mengembalikan semuanya kembali ke tracknya, meski sudah sangat diusahakan tetap saja sesekali emosi ini meluap disaat kondisi si kakak memberikan tantangan mama dan bersamaan dengan si adek meminta perhatian serta pekerjaan rumah yang sudah ada didepan mata, dan tantangan terbesar dalam komunikasi dengan si kakak adalah waktu makan, waktu kakak bermain dengan adek, dan pada kondisi disaat hal tak terduga, dimana yang kakak harapkan tidak terlaksana (pemicu tantrum). Karenanya dalam tantangan Komunikasi Produktif saya memilih Kakak Aiko (3y9m), meski beberapa gaya KomProd yang ada dimateri IIP sedang proses kami laksanakan
KomProd Sesi Makan Kakak Zameena Aiko Nursabrina (Kakak Aiko)
Kakak Aiko memiliki kebiasaan makan yang menarik, menu makan yang harus berganti setiap makan (picky eater), selalu ada drama minum, minta ini dan itu. Dan memang sesi makan adalah waktu yang memaksakan dimana kakak harus makan, saya juga tahu ini hal yang tidak baik karena sesi makan seharusnya penuh dengan perasaan happy dan tidak ada paksaan. Pernah dicoba makan dengan waktu yang sama tapi tidak memaksakan (sekeinginannya kakak) dan malah membuat si kakak di rawat di RS hanya karena perut kembung dan demam lebih dari 40⁰C disaat tanggal merah. Dan si kakak Aiko pernah terkena TB dimana berat badan (BB) stagnan, dan patokan dari dsa kenaikan BB selama terapi obat minimal 500gr/bulan. Pengalaman itu yang sering bergelayut dipikiran mama. Ini adalah moment makan kakak tadi sore :
Mama : Kak, setelah adek selesai maem ntar gantian kakak ya? (setelah adanya adek si kakak lebih suka makan disuapin, mungkin efek ingin dapat perhatian seperti adek Al, dan semenjak si adek tambah pintar motorik kasarnya semakin susah adek dan kakak makan dalam waktu yang sama)
Kakak : Iya Ma
si adek pun selesai makan, sekarang belajar tanpa paksaan (semaunya adek)
Mama : Kak adek udah selesai, kakak mau makan pakai udang tepung kriuk apa ikan goreng?
Kakak : Pake udang tepung kriuk aja Ma, terus sama apa lagi Ma?
Mama : Pakai sayur yang tadi mama masak ka
Kakak : Sayur apa sih ma?
Mama : Sayur sawi sendok sayang
Kakak : Oh iya, iya kakak tau tau (sok manggut-manggut paling suka kalo gaga gini, lucu)
Suapan pertama dan kedua mulus, dan disaat suapan ketiga
Kakak : Ma, kakak mau minum sek
Mama : Iya sayang, sana anak mama pinter yang udah bisa ambil minum sendiri
(minum selesai)
Mama : Sini sayang duduk lagi (mendekat ke mama)
Kakak : (duduk sambil menghabiskan seluruh air yang ada digelas dan mama hanya bisa bernafas panjang)
Mama : Nih tadi kakak minta udang kriuk kan, gizinya banyak lo kak (sambil nyuapin ke kakak)
Kakak : Iya ma, kan ada udangnya, tahu, sayurnya sama ada nasinya, proteinnya, banyak sekali gizinya (suka mata kakak kalau lagi jelasin dan si kakak mulai bermain playmat)
Mama : iya ka, gizinya komplit (mama ngelirik yang dimulut belum habis)
Kakak : (nasi yang dimulut kadang dikunyah dan kadang cuma didiamkan dimulut/diemut)
Mama : Ayo sayang dikunyah makanannya
Kakak : (mengunyah dan mulai garuk-garuk kepala tanda mulai bosen)
Mama : Nih kak biar gendut kaya difoto kakak yang ada dapur kardusnya (sambil menyuapkan nasi)
Makanan yang ada dimulut terkadang dikunyah dan kadang cuma diemut sambil si kakak main sementara adek Al mulai ngantuk dan minta nenen ( si adek kalau mulai ngantuk minta nenen sambil berdiri dan tidak suka kalau mama ngomong)
Mama : Adek mau bobo? anak pinter abis maem terus minta bobo, sebentar ya sayang maemnya kakak belum habis (mama ngobrol sama adek yang mulai rewel karena kantuk)
Kakak : Ma Kakak pinter juga ya makannya?
Mama : Kakak habisin dulu makannya, berarti habis itu pinter deh makannya
Kakak : Ga mau, kakak maemnya pinter juga? (mulai merajuk)
Mama : Yuk ayo dihabisin sayang ntar pinter makannya, enaknya udangnya..
Kakak : Kakak pinter mah makannya
Mama : Iya kak pinter, yuk sayang dimakan (sambil nenennin adek yang mulai kantuk berat jadi agak ngek ngok dan si kakak yang mulai mau memuntahkan makanannya) jadi mama juga mulai ga fokus nada suaranya
Kakak : Kok keras suaranya, jangan (mulai nangis)
Mama : Iya kakak Aiko pinter (mama nadanya pelan)
Kakak : Tapi ngomongnya jangan gitu tapi sambil senyum kata kakak
Mama : Dengan posisi senyamannya adek dan kakak mama mencoba ngomong sambil senyum sekenanya efek si adek mbulet aja minta bobo
Kakak : Tapi senyumnya yang bagus (si kakak mulai merajuk minta mama senyum cantik)
Mama : (sambil senyum manis) Iya kakak pinter makan. Ayu kak dimakan, apa kakak mau makan sendiri? (meski dengan nada suara yang mulai datar)
Kakak : emoh, kakak mau minum lagi
(sementara si adek tambah rewel karena kantuk dan si kakak makannya diemut)
Mama : Ayuh Kak (raut muka mama mulai kelihatan ga enak dan menghela nafas panjang)
dan setelah drama panjang, si kakak menghabiskan makannnya
KomProd hari ini gagal, si mama berhasil menaikan nada suaranya, next sesi makan berikutnya perlu dievaluasi jam-jam makan dan nyemil si kakak, membuat tampilan menu yang menarik, membuat suasana lebih have fun saat si kakak makan, menerapkan lagi makan max 30 menit dan mama harus belanja stok sabar agar bisa menerapkan KomProd yang baik dan syukur-syukur mengubah pola makan si kakak Aiko.
Noted : awalnya mau nulis KomProd dengan suami, sayangnya suami baru pulang kerja jam 23.00 dan belum makan malam. Suami minta dibuatin mie rebus (padahal si mama sesorean sambil akrobat udah masak tumis pakcoy dan udang kriuk (yang udangnya udah ready di kulkas dan tinggal masak karena lebih enak digoreng saat akan dimakan). Eh pas bikin ternyata si mama juga kepengen (gagal diet hahaha).
#day1
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#KomunikasiProduktif
#kuliahbunsayiip
Tidak ada komentar:
Posting Komentar