Assalamualaikum….
Tantangan kali ini kok beraadd ya bagi saya yang engga pernah kepikiran bakal membuat satu cerita atau dongeng untuk anak dan setelahnya dituliskan dengan ada target waktu penyelesaian.
Membacakan cerita ke kakak, memang terkadang menjadi agenda siang atau malam hari. Kadang saat akan tidur atau bisa jadi siang hari saat tiba-tiba kakak minta dibacakan buku cerita. Teringat dahulu Mama saya sering mendongeng tanpa buku saat kami (saya, kakak perempuan dan adik perempuan) hendak tidur. Mama selalu bercerita tanpa buku, karena kondisi kami saat itu memang sulit. Boro untuk membeli buku, untuk makan saja harus sedemikian rupa agar bisa mencukupi hingga 1 bulan. Meskipun cerita yang dibawakan hanya itu-itu saja seperti Cinderella, beauty n the beas,timun mas, si kancil dan pemburu, kancil dan siput dan entah apa lagi. Yang paling diingat beberapa cerita tadi karena sering diulang-ulang ceritanya dan kami tetap menyukainya.
Malam ini rencananya ingin bercerita ke kakak Aiko sebelum tidur. Mama cerita sih kenapa Mama mau bikin cerita sendiri ga seperti biasanya hanya baca dari buku cerita yang ada di rumah.
Mama : “Kak, kakak mau ga diceritain Mama sebelum tidur?” tanya Mama ke kakak
Kakak : “Mau donk ma, aku ambil dulu bukunya ya Ma” kakak beranjak dari tempat tidur hendak mengambil buku cerita yang ingin dibacakan.
Mama : “Ndak usah ambil nduk” Mama menghentikan kakak Aiko yang hampir turun dari tempat tidur untuk mengambil buku yang dingin di bacakan
Kakak : “Kok Ndak boleh ambil Ma? Katanya mau dibacain buku”
Mama : “Iya nduk, Mama mau bikin cerita sendiri. Kakak mau ga?” tanya Mama seraya mengajak kakak Aiko berbaring
Kakak : “Wooww Mama mau bikin cerita sendiri” ekspresi kakak Aiko yang seperti ini yang paling Mama suka
Mama : “Oke Mama mau cerita tentang hewan aja ya?”
Kakak : “Oke mami” dengan suara riang
Mama : “Kakak mau hewan apa?” Mama menyebut sederet hewan agar kakak nantinya memilih yang mana yang mau dijadikan tokoh dalam cerita. Dan kakak menjatuhkan pilihan kepada gajah.
Mamapun mulai membuat cerita dengan menggunakan hewan gajah.
“Di suatu rumah yang besar sekali tinggallah keluarga gajah. Ada papa gajah yang bernama Pak Gozu dan Ibu Gajah yang bernama Ibu Mutu. Mereka mempunyai dua anak, anak yang pertama bernama Eliza, ia seekor gajah yang cantik dan anak kedua mereka bernama Zio dan dia adalah gajah kecil dengan badan yang gembul.”
(“Ma gajah yang cewek pakai pita ya, biar cantik. Ditanya warna pink aja Ma ananti ditaruh disini” kata kakak Aiko sambil menunjuk atas kepalanya dengan posisi sedikit kesamping kanan.)
Eliza selalu memakai pita warna pink diatas kepalanya, biar terlihat cantik katanya. Sore hari Eliza dan Zio sedang bermain bersama di depan rumah. Mereka sedang bermain madak-masakan, saat sedang asik bermain kakak Eliza teringat sesuatu.
“Ah Zio hampir saja aku lupa” kata Eliza sambil menepuk dahinya seperti tersentak teringat suatu hal yang penting.
“Lupa apa Kak?” tanya Zio sambil menatap bingung sikap kakaknya barusan.
“Sebentar lagi Mama Mitu berulang tahun, dan aku belum mempersiapkan kadonya” Eliza menjelaskan kepada Zio tentang apa yang tiba-tiba diingatnya.
“Benarkah kak?” Zio bertanya memastikan dan dijawab dengan anggukan dari Eliza yang menyatakan kebenaran informasi yang diberikan kepada adiknya.
“Untung saja kau mengingatnya kak” Tutur Zio bersyukur karena kakaknya mengingat hari ulang tahun Mama.”Berarti aku pun harus mempersiapkan kado untuk Mama, aku harap Mama akan suka dengan kado yang aku beri nanti” gumam Zio yang memulai berfikir kado apa yang akan ia berikan kepada Mamanya.
“Tentu saja Mama akan lebih menyukai kado yang aku berikan” kata-kata Eliza tiba-tiba membuyarkan pikiran Zio yang sedang merencanakan kado untuk sang Mama.
Mendengar perkataan Eliza yang tidak menyenangkan membuat Zio sedikit marah. “Tentu kadoku nanti yang akan lebih disukai Mama” jawab Zio tidak terima. Dan sore itu dihabiskan mereka dengan memperdebatkan kado yang terbaik untuk Mama.
Di dalam kamarnya Eliza sedang membuat sesuatu untuk Mamanya, ternyata Eliza sedang merajut gaun yang indah untuk Mama Mitu. “Pasti Mama akan suka kadoku, apalagi ini kubuat dengan tanganku sendiri” gumam Eliza disela-sela kegiatan merajutnya.
Sedangkan Zio masih bingung memikirkan kado apa yang akan dia berikan untuk Mama, tiba-tiba ia teringat sesuatu. Ya ia teringat bahwa Mamanya senang sekali memasak. Setelah berpikir panjang Zio memutuskan ingin membelikan celemek yang indah untuk Mama. Setelah membeli apa yang diinginkannya dan sudah dibungkus dengan begitu indahnya. Zio kecil pulang ke rumah dengan perasaan bahagia. Ya bahagia karena celemek indahnya akan menggantikan celemek Mama lama yang sudah banyak sekali noda dan titik -titik hitam dimana-mana.
Melihat Zio sedang membawa bungkusan kado dengan bibir yang ditarik keatas pertanda empunya wajah pasti sedang bahagia. Hal itu membuat Eliza sedikit kesal “Pasti Mama akan lebih menyukai kadoku, karena aku buat dengan tanganku sendiri”, ucap Eliza dengan nada sedikit menyombongkan diri. Mendengar ucapan Eliza membuat Zio menghentikan langkahnya. “Apa yang kakak bilang barusan?” Tanya Zio tidak suka. “Apa isi bungkusan kadomu?” Eliza bertanya penuh selidik. “R A H A S I A” jawab Zio terkekeh sendiri. “Kau tidak mau memberitahu pasti karena isi kadomu jelek” tuduh Eliza seenaknya karena geram Zio tidak memberitahunya isi kado yang akan diberikan mamanya, dan itu membuat Eliza semakin penasaran. “Tidak pasti Mama lebih menyukai kadoku, karena aku tahu Mama membutuhkannya” jawab Zio yang tidak terima perkataan kak Eliza. Merekapun kembali memperdebatkan kembali kado yang akan diberikan untuk Mama Mitu.
Untung saja Mama Mitu dari dalam rumah mendengar ada ribut-ribut tidak jelas. Melihat Mama Mitu yang meletakan jari telunjuknya di mulut sebagai instruksi untuk menyuruh Eliza dan Zio diam, mau tidak mau mereka berdua menghentikan perdebatan. Saat mama Mitu menanyakan apa yang mereka perdebatkan, baik Eliza maupun Zio hanya mengedikan bahu dan berlalu masuk ke kamar masing-masing.
Hari yang ditunggu akhirnya datang. Pagi-pagi sekali Eliza dan Zio sudah bangun dan sedang mempersiapkan kejutan untuk Mama Mitu. Mereka sepakat bekerjasama agar kejutan yang mereka persiapkan lebih cepat selesai. Beruntung mereka dapat menyelesaikannya sebelum Mama Mutu dan Papa Gozu bangun dari tidurnya.
Mama Mitu dan Papa Gozu kaget, disaat keluar kamar ruang keluarga sudah dihias dengan kertas krep warna warni yang ujungnya di bentangkan dari sudut-sudut ruangan. Dan ujung satunya bertemu ditengah-tengah ruangan, dan untuk menambah ramai ruangan digantungkan balon warna-warni. Tak hanya itu dimeja makan juga sudah disiapkan beberapa roti tawar yang sudah diisi dengan beberapa isian selai, dan tak lupa cokelat hangat melengkapi hidangan dimeja keluarga gajah.
“Selamat Ulang Tahun Mama” teriak mereka berdua. Mama Mitu yang tidak menyangka akan diberi kejutan yang manis seperti ini diulang tahunnya menjadi terharu dan sangat bahagia. “Terimakasih sayang” Mama Mitu mengucapkannya sambil terisak karena bahagia, kemudian menghampiri Eliza dan Zio untuk memeluk mereka berdua, Eliza dan Zio pun menghambur kepelukan Mama.
Teringat suatu hal, Eliza buru-buru melepaskan pelukannya dan berlari ke kamar dan keluar dengan membawa bungkusan kado berwarna biru langit, yang ia tahu itu warna kesukaan Mamanya. Seperti diingatkan oleh sikap Eliza, Zio dengan sigap tidak mau kalah dari kakak Eliza berlari mengambil kado yang sudah ia persiapkan untuk mamanya, bungkusan kado yang hendak diberikan Zio tak kalah cantik. Kertas kado biru tua bergambar hati membalut kado yang hendak diberikan ke Mama Mitu, tak lupa Zia menambahkan pita-pita kecil untuk mempercantik kadonya.
“Mama, aku harap Mama suka dengan kadoku” kata Eliza dan Zio hampir bersamaan. Saat Mama menerima kado yang diberikan Eliza, sontak Zio langsung cemberut karena ia menginginkan kadonya terlebih dahulu yang diterima.
“Kamu ini, Mama kan mau menerima kadoku terlebih dahulu kenapa kamu memasang wajah sepeti itu” tanya Eliza dengan menaikan suaranya.
“Karena kadoku lebih bagus, dan aku yakin Mama akan menyukainya jadi harusnya Mama menerina kadoku terlebih dahulu” jawab Zio dengan nada acuh.
“Enak saja, ini aku buat dengan tanganku sendiri jadi pasti Mama lebih menyukai kadoku karena aku sudah membuatnya cinta dan kesabaran” timpal Eliza tidak terima.
“Ssstttttt……” Mama mengingatkan Eliza dan Zio untuk mengakhiri perdebatan mereka yang sudah berlangsung dari tadi. Mama Mitu mulai mengerti apa yang mereka perdebatkan selama ini. “Baiklah, sekarang kalian pegang kado kalian masing-masing” Zia dan Eliza kaget mendengar perintah Mama Mitu tapi mereka melakukan perintah Mama tanpa sedikitpun mendebat.
“Buka kado kalian masing-masing” mama Mitu melanjutkan lagi instruksi nya. Eliza dan Zio secara bersama-sama membuka kado yang sudah mereka persiapkan. Melihat kado yang diberikan anak-anak tercintanya, sekali lagi Mama Mitu terharu. Mama membuka tangannya, mengetahui itu Eliza dan Zio langsung menghambur ke pelukan Mama Mitu. Papa Gozu yang melihat adegan demi adegan dari tadi merasa haru dan sesekali menyeka butiran air yang keluar dari sudut matanya.
“Apapun kado yang kalian berikan untuk Mama, Mama pasti akan menyukainya, bukan kadonya yang terpenting untuk Mama tapi Cinta kalian untuk Mama adalah hal yang paling membahagiakan” mendengar ucapan Mama membuat Eliza dan Zio tidak dapat membendung air matanya.
“Mamapun berharap kalian bisa saling menyayangi satu sama lain seperti kalian menyayangi Mama. Kalian bersaudara, harus saling menguatkan, menyayangi dan melindungi” sekali lagi ucapan mama membuat Eliza dan Zio merasa bersalah. Mereka menguarai pelukan Mama kemudian Eliza dan Zio saling berpelukan, sepertinya mereka menyadari betapa berharganya saudaranya, harusnya mereka bisa saling membantu satu sama lain dan bukannya malah bersaing.
“Nah nduk, kakak dan adek Althar pun juga harus rukun kaya Zio dan Eliza” Mama mulai menjelaskan kepada kakak Aiko. Belum selesai penjelasan, kakak langsung memotong perkataan Mama. “Ma besok ceritanya princess aja, kakak sukanya cerita princess ga suka cerita hewan-hewan”. Hahaha ternyata si anak malah request cerita selanjutnya.
Jangan bayangkan ceritanya semulus di tulisan, beberapa kali malah saya yang dihinggapi kantuk tiada Tara. Entahlah kenapa setiap mendongeng baik dengan membaca buku maupun membuat cerita sendiri seperti ini. Bercerita di waktu malam ataupun siang membuat mata saya tiba-tiba mengantuk. Padahal saya bukan tipe yang gampang tidur, bahkan termasuk tipe yang suka begadang. Rasa-rasanya membaca cerita pengamhantar tidur untuk diri sendiri.
#Tantangan10Hari
#Level10
#KuliahBunsayIIP
#GrabYourImagination
#Level10
#KuliahBunsayIIP
#GrabYourImagination
π»π»ππππ¦πππ’π»π»ππππ¦πππ’π»π»
Tidak ada komentar:
Posting Komentar